Tentang Hari Kemarin
Oleh : Sururi Aziz
Sejujurnya saya tidak
benar-benar jujur mengatakan, "Oh, ngga apa-apa" saat kakiku terinjak
untuk beberapa saat. Bukan karena pelakunya adalah perempuan muda yang baru
saja naik di stasiun Sudirman dengan seragam kantor yang masih menyisakan aroma
parfumnya. Namun penuhnya penumpang kereta memaksa saya untuk melebarkan ruang
toleransi dan pintu maaf. Beruntungnya saya karena satu stasiun pemberhentian
berikutnya penumpang mulai berkurang, Meskipun sudah terbiasa menggunakan
layanan commuter line untuk pergi dan pulang beraktivitas, namun hari ini
terasa benar 'apes'nya. Berhenti di stasiun tanah abang, hampir sepertiga
penumpang turun. Lega ? Tidak. Karena kemudian penumpang yang naik dari kawasan
tanah abang menuju stasiun Duri jauh lebih banyak. Berhimpitan lagi, kali ini
dengan aroma yang berbeda. Maklum sebagiannya adalah ibu-ibu yang semestinya
sedang santai di rumah pada jam-jam begini.
Berangkat pagi diawal pekan setelah libur agak panjang adalah suatu dilema. Naik bus, pastilah perlu waktu tunggu lebih lama karena busnya juga mengangkut para "mudikers" pekanan. Maka pilihan jatuh pada commuter line. Sayangnya, sebagian orang berpikir yang sama dengan saya hingga peminat moda transportasi ini pun membludak layaknya lebaran. Dua kali ganti kereta hingga ke tempat tujuan, selalu berdiri berdesakan. Sempat menunggu kereta berikutnya dengan harapan ada ruang kosong, malah membuat saya terlambat sampai tujuan. Resiko jadi anggota 'roker' sejati.
Dan malam ini...... Terulang apa yang terjadi dipagi saat berangkat. 'Peak hour', barangkali satu-satunya yang bisa dijadikan kambing hitam karena pilihan waktu yang keliru. Meskipun demikian, saya tetap merasa beruntung. Selamat hingga stasiun Tangerang sebagai tujuan akhir perjalanan kereta hari ini. Hingga berhenti di stasiun akhir pun tidak sempat kebagian duduk meski sejenak. Duh nikmatnya merasakan Jarak Tangerang - Jakarta serasa Jakarta - Surabaya.
Berangkat pagi diawal pekan setelah libur agak panjang adalah suatu dilema. Naik bus, pastilah perlu waktu tunggu lebih lama karena busnya juga mengangkut para "mudikers" pekanan. Maka pilihan jatuh pada commuter line. Sayangnya, sebagian orang berpikir yang sama dengan saya hingga peminat moda transportasi ini pun membludak layaknya lebaran. Dua kali ganti kereta hingga ke tempat tujuan, selalu berdiri berdesakan. Sempat menunggu kereta berikutnya dengan harapan ada ruang kosong, malah membuat saya terlambat sampai tujuan. Resiko jadi anggota 'roker' sejati.
Dan malam ini...... Terulang apa yang terjadi dipagi saat berangkat. 'Peak hour', barangkali satu-satunya yang bisa dijadikan kambing hitam karena pilihan waktu yang keliru. Meskipun demikian, saya tetap merasa beruntung. Selamat hingga stasiun Tangerang sebagai tujuan akhir perjalanan kereta hari ini. Hingga berhenti di stasiun akhir pun tidak sempat kebagian duduk meski sejenak. Duh nikmatnya merasakan Jarak Tangerang - Jakarta serasa Jakarta - Surabaya.
Tangerang, 3 April 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar