Rabu, 28 Juni 2017

Apakah Saya Ustadz ?



Apakah Saya Ustadz ?
Oleh : Sururi Aziz


Saya, adalah guru. Profesi yang saya tekuni sejak 1992 ini sangat membanggakan dalam hidup saya. Dalam perkembangannya saat ini, saya nyambi mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta, juga menjadi Trainer dan  Freelance education consultant. Pengalaman menjadi ketua DKM selama dua periode membuat saya banyak belajar ilmu agama. Jadi, kalau diminta ceramah yang bersinggungan dengan agama ditingkat kampung, sedikit saja sih bisa. Nah, yang membuat saya risih belakangan ini adalah panggilan atau sebutan “ustadz” kepada saya. Kata orang sih, ustadz itu ya guru. Jadi wajar kalau saya dipanggil dengan sebutan ustadz karena saya guru. Benarkah demikian ?
Dalam konteks pendidikan Islam, guru atau “pendidik” sering disebut dengan murabbi, mu’allim, mu’addib, mudarris, dan mursyid. Menurut peristilahan yang dipakai dalam pendidikan dalam konteks Islam, kelima istilah ini mempunyai tempat tersendiri dan mempunyai tugas masing-masing.
Dalam tulisan ini kita akan jelaskan posisi ustadz yang sebenarnya (insya Allah), agar Anda semua tidak salah paham.

1)     Secara umum, ustadz itu diartikan sebagai GURU atau pendidik. Ini adalah pengertian dasarnya. 
2)      Guru dalam khazanah Arab atau Islam, memiliki banyak istilah yang berbeda-beda, yaitu: Mudarris, Mu’allim, Muaddib, Musyrif, Murabbi, Mursyid, dan termasuk Ustadz. Masing-masing istilah memiliki makna tersendiri.
3)     Mudarris artinya guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang menyampaikan dirasah atau pelajaran. Siapa saja yang menyampaikan pelajaran di hadapan murid-murid, dia adalah Mudarris.
4)     Mu’allim artinya guru juga, tetapi lebih spesifik: Orang yang berusaha menjadikan murid-muridnya tahu, setelah sebelumnya mereka belum tahu. Tugas Mu’allim itu melakukan transformasi pengetahuan, sehingga muridnya menjadi tahu.
5)     Muaddib atau Musyrif, artinya juga guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang mengajarkan adab (etika dan moral), sehingga murid-muridnya menjadi lebih beradab atau mulia (syarif). Penekanannya lebih pada pendidikan akhlak, atau pendidikan karakter mulia.
6)     Murabbi artinya sama, yaitu guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang mendidik manusia sedemikian rupa, dengan ilmu dan akhlak, agar menjadi lebih berilmu, lebih berakhlak, dan lebih berdaya. Orientasinya memperbaiki kualitas kepribadian murid-muridnya, melalui proses belajar-mengajar secara intens. Murabbi itu bisa diumpamakan seperti petani yang menanam benih, memelihara tanaman baik-baik, sampai memetik hasilnya.
7)     Mursyid artinya juga guru, tetapi skalanya lebih luas dari Murabbi. Kalau Murabbi cenderung privasi, terbatas jumlah muridnya, maka Musyrid lebih luas dari itu. Mursyid dalam terminologi shufi bisa memiliki sangat banyak murid-murid.
8)     Baru kita masuk pengertian Ustadz. Secara dasar, ustadz memang artinya guru. Tetapi guru yang istimewa. Ia adalah seorang Mudarris, karena mengajarkan pelajaran. Ia seorang Mu’addib, karena juga mendidik manusia agar lebih beradab (berakhlak). Dia seorang Mu’allim, karena bertanggung-jawab melalukan transformasi ilmiah (menjadikan murid-muridnya tahu, setelah sebelumnya tidak tahu). Dan dia sekaligus seorang Murabbi, yaitu pendidik yang komplit. Jadi, seorang ustadz itu memiliki kapasitas ilmu, akhlak, terlibat dalam proses pembinaan, serta keteladanan.
9)     Dalam istilah Arab modern, kalau Anda menemukan ada istilah “Al Ustadz Ad Duktur” di depan nama seseorang, itu sama dengan “Profesor Doktor”. Jadi Al Ustadz itu sebenarnya padanan untuk Profesor. Kalau tidak percaya, coba tanyakan kepada para ahli-ahli Islam yang pernah kuliah di Timur Tengah, apa pengertian “Al Ustadz Ad Duktur”?
10)Sejujurnya, istilah Ustadz itu dalam tataran ilmu, berada satu tingkat di bawah istilah Ulama atau Syaikh. Kalau seseorang disebut Ustadz, dia itu sebenarnya ulama atau mendekati derajat ulama. Contoh, seperti sebutan Ustadz Muhammad Abdul Baqi’, Ustadz Said Hawa, Ustadz Hasan Al Hudaibi, Ustadz Muhammad Assad, dan lain-lain.
Nah, hal seperti ini perlu dijelaskan, agar kita tahu dan memaklumi. Istilah Ustadz itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Di dalamnya terkandung makna ilmu, pengajaran, akhlak, dan keteladanan. Kalau kemudian di Indonesia, istilah Ustadz sangat murah meriah, atau diobral gratis… Ya itu karena kita saja yang tidak tahu.

Tangerang, 4 Syawal 1438 H. bertepatan 28 Juni 2017

Minggu, 11 Juni 2017

Tradisi dan Lebaran (2)



TRADISI dan LEBARAN (2)

Secara bahasa kolak merupakan serapan dari kata “Kholaqo” dalam bahasa Arab, yang berarti membuat, mencipta, menjadikan. Filosofinya, puasa adalah sebuah proses untuk mengubah bagi tiap manusia yang berpuasa agar berubah menjadi orang yang lebih baik secara lahir maupun bathin.

BEDA ANAK LELAKI DAN PEREMPUAN
Setiap daerah punya tradisi yang mungkin berbeda satu sama lain dalam menyambut Ramadhan. Begitu pun epanjang Ramadhan, dari sisi aktivitas kebiasaan maupun tradisi dalam hal makanan. Bagi kami, yang lahir dan dibesarkan di kota kecil di pesisir utara pulau jawa ini, Ramadhan adalah bulan pelatihan. Ya, terutama bagi kami yang laki-laki. Sebagian besar dari anak laki-laki yang sudah bersekolah setingkat SD hingga SMA, adalah wajib tiap malamnya untuk tidak tidur di rumah. Sudah menjadi kebiasaan bagi anak laki-laki untuk “ngalong” atau tidur di langgar atau mushola juga masjid.
Sudah menjadi kebiasaan di kampong kami, setiap menjelang berbuka puasa anak perempuan membantu ibu di dapur. Sementara anak laki-laki harus ke langgar untuk mengikuti kajian hadits hingga berbuka. Sungguh sangat menyenangkan. Biasanya kajiannya seputar kitab Arba’in atau Safinatun Najjah, dan lainnya. Sebenarnya, secara jujur bukan saja kajiannya yang membuat kami bersemangat. Hal lain yang membuat kami bersemangat adalah saat kami mendapat giliran menyiapkan menu berbuka. Meskipun hanya menyiapkan the manis panas dalam gelas sejumlah rata-rata 80 – 100 gelas, tetapi karena biasanya menu utama berupa “nasi ponggol” akan diantar oleh anak-anak perempuan dari keluarga yang mendapat giliran jatah menyediakan sajian berbuka. Saat itulah biasanya kami rela menunggu lebih lama di dapur dibanding mendengarkan kajian.
Selepas shalat maghrib, kami tidak pulang ke rumah. Sambil menunggu tibanya shalat 'Isya dan taraweh kami bermain perang “dor-dar” atau bakar petasan buatan sendiri. Dor-dar adalah meriam sundut dengan bahan bakar karbit yang dibuat dari potongan bamboo jenis betung dengan diameter lingkaran sekitar 20 cm. Perang akan selesai begitu adzan terdengar.
Sebagai kampong yang kental dengan nuansa Nahdliyin, tentu kami shalat tarawih 20 rakaat ditambah 3 rakaat witir. Tiap salam 2 rakaat diiringi shalawt yang berbeda-beda sehingga kami selalu menandai banyaknya shalat yang sudah terlaksana dengan bacaan shalawatnya. Misalnya, kalau bilal sudah memimpin shalat “Ya Allah Biha bi husnil khatimah” itu tandanya sudah rakaat yang 12, atau shalawat “Ya Rabbi bil musthofa“, itu tandanya akan memasuki rakaat ke 17, dan seterusnya.
Selesai tarawih kami langsung bertadarus atau nderes minimalnya satu juz. Meskipun bergiliran, tetapi suara kami harus diperdengarkan menggunakan alat pengeras suara atau speaker. Tujuannya adalah control bagi orang tua sebagai alat absensi dan juga guru ngaji kami untuk memantau bacaannya benar atau tidak.  Selesai tadarus biasanya ada jaburan berupa gorengan plus kopi atau teh.
Hampir tiap malam, kami tidak pernah tidur, karena harus keliling untuk membangunkan dengan kentongan bamboo, bendug langgar, dan alat lain seketemunya. Keliling sahur selalu dimulai pukul 02.30 hingga 03.30., sesudah itu kami pulang untuk makan sahur bersama keluarga. Sepanjang keliling sahur itulah terkadang kenakalan kami muncul, terutama kalau lewat daerah yang ada pohon manga yang sedang berbuah, pohon jambu, atau jenis pohon lain yang buahnya bisa langsung disantap. Dan yang jadi rahasia umum adalah memanggil-manggil nama anak gadis “incaran” saat lewat di depan rumahnya.
Tiba waktunya shalat shubuh biasanya bersamaan datangnya dengan rasa kantuk. Maka tidak heran sebagian dari kami mencari tempat favorit untuk bersandar bahkan meringkuk selama shalat hingga kuliah shubuh. Herannya, begitu selesai kami akan segera terbangun dan bergegas untuk melanjutkan aktivitas berikutnya, yaitu olah raga pagi. Ada yang lari, senam, tapi sebagian besar dari kami hanya jalan-jalan sambil saling menggoda laki dan perempuan. Mungkin ini yang disebut dengan “asmara shubuh”
KOLAK
Kolak selalu menjadi menu wajib tiap berbuka puasa bagi kami, Bahkan hingga kini sebagian orang di sebagian besar daerah di Indonesia, kolak juga menjadi menu wajib. Belum berbuka rasanya kalau belum ada kolak. Bahan pembuat kolak bisa bermacam-macam. Pisang, ubi, singkong/tape, labu, dan lain-lain merupakan bahan yang sering digunakan dalam keluarga kami.
Mengapa harus kolak? Tidak takut diabetes? Menurut mbah putri, belum pernah ada kasus penyakit diabetes karena makan kolak selama Ramadhan. Meskipun mengandung santan dan gula merah, kolak merupakan sumber energy yang bisa memulihkan tenaga sepanjang siang berpuasa.
Secara bahasa kolak merupakan serapan dari kata “Kholaqo” dalam bahasa Arab, yang berarti membuat, mencipta, menjadikan. Filosofinya, puasa adalah sebuah proses untuk mengubah bagi tiap manusia yang berpuasa agar berubah menjadi orang yang lebih baik secara lahir maupun bathin. Maka dengan berpuasa sebulan penuh, diharapkan akan lahir manusia-manusia dengan jiwa yang baru yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Tentu indikatornya adalah perilaku setelah berlebaran. Secara fisik juga akan menjadikan kita menjadi lebih sehat.

Tangerang, 12 Juni 2017, bertepatan dengan hari ke-17 Ramadhan 1438 H.

Sabtu, 10 Juni 2017

Lebaran dan Tradisi (1)



LEBARAN dan TRADISI (1)

MENYAMBUT RAMADHAN
Tiap kali lebaran menjelang, yang terbayang adalah berkumpulnya sanak keluarga dan para kerabat. Dalam suasana penuh kebahagiaan, saling bermaafan, dan saling menebar pujian. Dan yang tak kalah seru setiap momen lebaran adalah berburu makanan khas yang cenderung makin menghilang. Nah, kali ini saya mau cerita tentang pernak-pernik pengalaman berlebaran di kampong halamanku tercinta : TEGAL, KOTA BAHARI.
Kesan lebaranhan saya mulai dari menyambut awal ramadhan. Sepekan menjelang ramadhan tiba, di setiap rumah nampak kesibukan yang hamper sama, bersih-bersih. Ya, bersih-bersih rumah, kebun, dan apa pun yang menjadi tempat yang sering kami sambangi. Tentu saja termasuk di dalamnya ada langgar atau mushola. Kaum perempuan kebagian membersihkan perabot rumah tangga, termasuk sprei, gordyn, sarung bantal, dll. untuk dicuci. Sementara kaum laki-laki membersihkan kebun dan rumah, mengganti cat rumah kalau perlu, memeriksa genteng dan atap rumah, dll.  Semua harus dalam keadaan bersih.
Selain bersih-bersih, para lelaki juga membuat obor. Ada yang terbuat dari bamboo da nada pula yang memanfaatkan botol atau kaleng bekas. Obor akan dipasang di depan rumah dan tepi jalan. Kampung kami menjadi terang oleh lautan obor. Ini yang membuat kami, anak-anak menjadi semangat untuk pergi ke langgar untuk shalat tarawih maupun shalat subuh berjamaah. Tetapi seiring dengan semakin terang-benderangnya kampong kami, obor hanya dipasang di depan rumah sebagai symbol.
Sehari menjelang awal ramadhan, atau yang lebih dikenal dengan munggahan suasana makin semarak. Selepas shalat ashar, para lelaki berziarah ke makam. Biasanya kami sambil membawa kembang atau setidaknya irisan pandan untuk ditabur di atas makam. Selain untuk berdoa dan membersihkan makam, di area pemakaman biasanya juga menjadi ajang silaturahim antartetangga atau kerabat jauh. Ada yang sengaja pulang kampong bagi mereka yang merantau. Maklum, orang Tegal memang dikenal sebagai perantau. Seringkali pula terjadi kesepakatan untuk mengadakan acara hala bi halal yang dikemas dengan acara tabligh akbar.
Sementara itu, para kaum ibu eh perempuan memasak untuk hantaran kepada para tetangga. Kita saling kirim dengan cara yang amat sederhana. Tugas anak perempuan adalah mengantarkan masakan dengan menggunakan piring dan kembalinya diisi oleh makanan dari yang dikirim. Ada yang unik menurut saya. Semua menyiapkan masakan yang berbahan dasar ketan. Ada ketan yang dikukus campur kacang merah atau potongan kecil kelapa, ada pula yang membuat ketan yang hanya dibubuhi dengan parutan kelapa atau serundeng, ada pula yang menggunakan abon sebagai toppingnya. Kalau kebiasaan keluarga saya adalah ketan dengan topping pencok (serundeng yang ditumbuk halus, ini pekerjaan saya malam sebelumnya).
MENGAPA PAKAI KETAN ?
Tradisi turun temurun ini selalu kami jalani tanpa pernah bertanya. Termasuk kenapa semua hantaran berbahan dasar ketan. Namun dalam sebuah kesempatan, saya sempat menanyakan hal tersebut kepada simbah putri alias nenek. Saya mendapatkan jawaban yang menurut saya cukup filosofis. Tapi, entah benar atau tidak, itulah jawaaban mbah putri.
Pertama, ketan adalah akronim dari pengiket (pengikat) setan. Para leluhur mempercayai bahwa selama Ramadhan para setan itu diikat di neraka agar tidak menggoda manusia yang sedang menjalankan ibadah dibulan Ramadhan. Sehingga selama Ramadhan para manusia bisa menjalankan ibadah dengan khusyu’. Dikirim kepada para tetangga tujuannya adalah untuk saling mengingatkan satu sama lain. Sebab setan itu penuh tipu muslihat, meskipun sudah diikat di neraka tetapi terkadang ada manusia yang sudah terlanjur menjadi rumah bagi setan. Begitu kata mbah putri.
Kedua, ketan berasal dari kata Khatha’an (bahasa Arab) yang berarti kesalahan, kekeliruan. Munggahan sendiri berarti kenaikan. Jadi, yang dimaksudkan saling mengirim ketan pada saat munggahan diharapkan semua kesalahan atau kekeliruan yang diperbuat selam ini akan diangkat untuk diampuni. Itulah kenapa setiap menjelang Ramadhan kita disarankan untuk saling memaafkan sehingga sepanjang Ramadhan kita menjalankan ibadah dalam keadaan suci. Makanya Ramadhan disebut bulan suci.
Nah, itu tradisi di kampong halaman kelahiran saya, TEGAL KOTA BAHARI. Tradisi semacam ini ada di banyak tempat dengan istilah dan beraneka cara dalam menyambut Ramadhan. Bagaimana dengan tempat Bapak, Ibu, dan Saudara? Adakah kesamaan atau perbedaannya? Mari kita berbagi.

Selamat menunaikan Ibadah Ramadhan 1438 H., semoga kita menjadi insan yang mencapai derajat ketaqwaan kepada Allah SWT.

Tangerang, 16 Juni 2017 bertepatan dengan 16 Ramadhan 1438 H., Ahad Pahing.