Selasa, 07 Juni 2022

 


AKU

Adalah aku, sendiri tanpamu
menunggu dalam kesunyian yang tak berujung
bersandar pada kesabaran yang tak 'kan berakhir
derai hujan menemani perjalanan tengah kegelapan
ke manakah aku?
Aku, masih sendiri tanpamu
menanti dalam senyap yang tak bertepi
terpasung pada janji yang entah kapan terbukti
hembus angin menemani menerpa hati
siapakah aku ?

 

Larantuka, 16 Mei 2022

Kamis, 21 April 2022

 

Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr 

oleh : ASA

Saudaraku! Setiap tahun, dan tepatnya di bulan suci Ramadhan ini, banyak dari umat Islam di sekitar anda merayakan dan memperingati suatu kejadian bersejarah yang telah merubah arah sejarah umat manusia. Dan mungkin juga anda termasuk yang turut serta merayakan dan memperingati kejadian itu. Tahukah anda sejarah apakah yang saya maksudkan? Kejadian sejarah itu adalah Nuzul Quran; diturunkannya Al Quran secara utuh dari Lauhul Mahfud di langit ketujuh, ke Baitul Izzah di langit dunia. Peringatan terhadap turunnya Al Quran diwujudkan oleh masyarakat dalam berbagai acara, ada yang dengan mengadakan pengajian umum. Dari mereka ada yang merayakannya dengan pertunjukan pentas seni, semisal qasidah, hadrah, nasyid dan lainnya. Mari saya mengajak diri saya sendiri terlebih dahulu dan umat Islam lainnya untuk senantiasa kita membaca dan mempelajari
Al-Quran. Membaca dan mempelajari Al-Quran harus dijadikan tradisi oleh masing-masing keluarga Islam di muka bumi ini, kalau gerakan ini berlanjut, maka bukan tidak mungkin dunia nanti akan dipenuhi nilai-nilai Quran dan saat itulah peradaban baru dunia itu muncul, yaitu peradaban yang bersumber dari nilai-nilai AlQuran. Mengapa kita harus membudayakan membaca dan mempelajari Al-Quran? Karena selaku umat Islam kita yakin bahwa Al-Quran merupakan pedoman hidup yang kompleks dan memuat sejumlah kebutuhan manusia, baik materiil maupun spiritual. Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad memang diperuntukkan kepada manusia agar dia mendapat rahmat dan kegembiraan dari Allah SWT. Membicarakan tentang Nuzulul Qur
an (turunnya Alquran) maka pasti tidak akan lepas pula membicarakan soal Lailatul Qadr dan Bulan Ramadhan. Karena memang antara ketiga hal tersebut terdapat hubungan yang saling kait mengkait. Allah Swt berfirman dalam Surat Al-Qadr ayat 1 yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Alquran) pada malam Qadr (Laelatul Qadr). Kemudian dalam Surat AdDukhan ayat 3 disebutkan pula yang artinya, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi (malam permulaan Al-Quran pertama kali diturunkan). Selain dua ayat diatas, dalam Surat Al-Baqarah ayat 185 Allah Swt berfirman yang artinya, “Bulan Ramadhan adalah bulan dimana di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan batil)…”. Mengenai persoalan bahwasanya Al-Quran untuk pertama kali diturunkan dari Lauhil Mahfudz sampai ke Batil „Izzah (Langit Dunia) yaitu pada Malam Qadr di bulan suci Ramadhan, para ulama mayoritas telah bermufakat semuanya. Dimana dari Baitil „Izzah ini, malaikat Jibril as kemudian mengantarkannya kepada nabi Muhammad Saw secara step by step selama kurun waktu sekitar 23 tahunan. Akan tetapi ketika diperinci lebih lanjut pada tanggal berapa persis sebenarnya saat nuzulul quran itu terjadi? Maka disini mulai terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama. Kontek perbedaan pendapat ini sebetulnya bermuara pada batasan waktu kapan terjadinya Laelatul Qadr itu. Ada yang berpendapat di hari – hari ganjil „asyrul awakhir bulan suci Ramadhan sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits. Ada pula yang mengatakan pada 27 Ramadhan. Dan ada lagi yang berpendapat bahwa khusus Laelatul Qadr saat nuzulul quran itu terjadi yakni pada tanggal 17 Ramadhan. Karena keterkaitannya Surat Al-Qadr ayat 1 dengan isyarat yang disampaikan oleh Allah Swt pada Surat Al-Anfal 41 yang berbunyi ; Artinya, “…jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan (AlQuran) kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Yang dimaksud dengan hari Furqan atau hari bertemunya dua pasukan adalah hari pertempuran perang Badr. Peristiwa perang tersebut terjadi pada tanggal 17 Ramadhan 02 H. Atau jatuh pada hari Selasa 13 Maret 624 M. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa peristiwa perang Badar itu terjadi pada hari Jumat adalah pendapat yang lemah (karena salah dalam mengkonversi). Dan pendapat bahwasanya Nuzulul Quran itu terjadi pada tanggal 17 Ramadhan inilah pendapat terbanyak yang dipakai di Indonesia. Sehingga tiap tiap tanggal 17 Ramadhan umat islam di Indonesia banyak yang memperingatinya. Peristiwa turunnya Alquran atau sering disebut sebagai Nuzulul Quran merupakan hal yang sampai saat ini selalu diperingati oleh sebagian umat Islam di dunia. Di seluruh negara Arab dilakukan tradisi syiar atau menyemarakkan bulan Ramadhan dengan berbagai kegiatan. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah dengan memperingati Lailatul Qadr yang biasanya ini serempak dirayakan oleh umat Islam di seluruh negara Arab pada malam ke-27. (Musthafa Luthfi, Harian Pelita, 01 September 2009). Sementara itu, dalam memperingati turunnya Alquran, di Indonesia dilaksanakan peringatan Nuzulul Quran pada malam ke-17 Ramadhan. Berbeda dengan umat Islam di Arab, di Indonesia, banyak umat Islam yang menyangka peristiwa Nuzulul Quran itu berbeda dengan Lailatul Qadr. Padahal jika dilihat dalam sejarah, kedua hal ini sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Lantas, mengapa umat Islam Indonesia memperingati turunnya Alquran pada malam 17 Ramadhan? Dalam situs wikipedia dijelaskan bahwa awal diperingatinya Nuzulul Quran di Indonesia, yaitu ketika Presiden Soekarno mendapat saran dari Buya Hamka untuk memperingati Nuzulul Quran setiap tanggal 17, karena bertepatan dengan tanggal Kemerdekaan Indonesia, dan sebagai rasa syukur kemerdekaan Indonesia. Memang, dari dahulu telah ada perbedaan pendapat para ulama mengenai tanggal pasti turunnya Alquran pertama kalinya, yang kemudian diperingati sebagai malam Nuzulul Quran. Rasulullah Saw. pernah mengabarkan tentang kapan akan datangnya malam Lailatul Qadr. Beliau bersabda: Carilah malam Lailatul Qadr di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” (HR. Bukhari dan Muslim); dalam Hadis yang lain juga dijelaskan: “Berusahalah untuk mencarinya pada sepuluh hari terakhir, apabila kalian lemah atau kurang fit, maka jangan sampai engkau lengah pada tujuh hari terakhir” (HR. Bukhori dan Muslim). Berdasarkan hadis di atas, diketahui bahwa Lailatul Qadr terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan yaitu pada malam-malam ganjilnya 21, 23, 25, 27 atau 29 Ramadhan. Keterangan bahwa turunnya Alquran pada 10 hari terakhir Ramadhan diperkuat oleh Syeikh Safiur Rahman Mubarakpuri, penulis Sirah Nabawiyah. Mubarakpuri dalam buku Cahaya Di Atas Cahaya (2008: 40) menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw. mendapat wahyu pertama pada malam senin, tanggal 21 Ramadhan (10 Agustus 610 M.). Menurut kalender yang didasarkan pada perputaran bulan (Qamariyah), saat itu Nabi berusia 40 tahun 6 bulan 12 hari. Sedangkan menurut kalender Masehi, Nabi berusia 39 tahun 3 bulan 22 hari. Keterangan Mubarakpuri di atas menguatkan pernyataan bahwa Alquran pertama sekali turun pada tanggal 21 Ramadhan dan bukan pada tanggal 17 Ramadhan. Berdasarkan berbagai keterangan di atas, Alquran diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. pertama kalinya pada malam Lailatul Qadr, yang oleh sumber sejarah dijelaskan bahwa Nabi menerima wahyu pada malam 21 Ramadhan. Jadi peristiwa Nuzulul Quran pertama sekali terjadi pada tanggal 21 Ramadhan, tepatnya pada hari senin, sebab sebagi besar ahli sejarah sepakat bahwa diangkatnya beliau menjadi Nabi adalah pada hari Senin. Dalil ini dianggap kuat karena Rasulullah ketika ditanya tentang puasa Senin beliau menjawab: “Di dalamnya aku dilahirkan dan di dalamnya diturunkan (wahyu) atasku” (HR. Muslim). Peristiwa turunnya Alquran (Nuzulul Quran) sebagaimana yang biasa diperingati oleh umat Islam Indonesia pada dasarnya tidak dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabatnya dan para tabiin. Jika pun perayaan Nuzulul Quran tetap diperingati dengan niat dan alasan yang baik, hendaknya bukanlah sekadar seremonial belaka, tetapi melalui peringatan tersebut esensi AlQuran sebagai peringatan bagi umat manusia dapat membawa bekas dalam diri umat Islam yang memperingatinya. Sebagaimana Alquran menjelaskan: Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir) dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman” (Al-Araaf: 2). Wallahu Alam

Selasa, 19 April 2022


Al-Qur’an dan Lailatul Qadar

Oleh : ASA

 

Beberapa ulama tafsir mengatakan surat Al Qadr menerangkan tentang peristiwa pada malam kemuliaan. Ibnu Katsir menerangkan, dalam surat ini Allah SWT menceritakan bahwa Dia menurunkan Al Quran di malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh dengan keberkahan. Menurut tafsir Kemenag, dalam ayat 2 Surat Al Qadr Allah SWT menjelaskan tentang keutamaan Lailatul Qadar yang tidak diketahui para ulama maupun ilmuan. Bahkan Nabi pun tidak sanggup menentukan kebesaran dan keutamaan malam itu. Hanya Allah SW yang mengetahui segala yang tidak diketahui oleh hamba-Nya.

Dalam ayat 3, Allah SWT menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar adalah malam yang memancarkan cahaya hidayah yang diturunkan untuk kebahagiaan manusia. Malam ini lebih utama dari seribu bulan. Menjalankan ibadah pada malam ini memiliki keutamaan diantaranya mendapatkan kemuliaan dan ganjaran yang lebih baik. Ayat selanjutnya Allah SWT menjelaskan keistimewaan yang terdapat dalam malam ini. Di mana para malaikat bersama Jibril akan turun dari alam malaikat untuk menyampaikan wahyu dari Allah SWT. Turunnya malaikat ke bumi atas izin Allah dan sudah menjadi rahasia-Nya.

Diriwayatkan dalam HR Abu Dawud, Ibnu 'Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang Lailatul Qadr: Lailatul Qadr adalah malam yang tenang dan cerah, tidak panas dan tidak dingin, serta matahari pada pagi harinya berwarna merah terang." (HR. Abu Dawud). Karena Lailatul Qadar memiliki keistimewaan yakni pahala melimpah, dosa diampuni, doa dikabulkan, hadir ketenteraman, dan lahir kemuliaan, penting bagi umat Islam memburu malam Lailatul Qadr. Malam keberkahan ini juga disebutkan dalam Q.S Ad-Dukhan ayat 3 sebagai berikut, Artinya: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan." Malam Lailatul Qadar terdapat di bulan keberkahan, yakni bulan Ramadhan. Hal ini juga diperkuat dengan firman-Nya pada penggalan Q.S Al-Baqarah ayat 185, artinya:" (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran...."


Metode turunnya Al Qur’an

Redaksi turunnya Al Quran diungkapkan dengan narasi dua diksi:

1.    Anzala : Dalam rumus bahasa Arab secara cepat, anzala menunjukkan peristiwa yang sekaligus, keseluruhan.

2.    Nazzala : Menunjuk proses yang bertahap.

Para ulama sepakat, Al Quran yang diturunkan secara berproses itu, itulah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Sejak mulai periode Iqra berlangsung di Gua Hira itu, pada hari Senin tanggal 21 Ramadhan, diawali dengan usia beliau 40 tahun, 6 bulan, 12 hari dalam hitungan hijriah. Dalam perhitungan kalender masehi, usia Nabi 39 tahun 3 bulan, 20 hari. Jadi kalau ada referensi sejarah menyebutkan Beliau menerima wahyu dalam usia 40 tahun, ini merujuk pada kalender hijriah.

Dalam hadits HR Muslim, 2263, Nabi SAW melalui pendahuluan dalam proses penerimaan wahyu pertama melalui mimpi yang benar dan dibimbing oleh Allah SWT. Bahkan itu berupa dari tanda kenabian. Mimpi yang benar itu, bagi para nabi merupakan 46 tanda kenabian. QS Ali Imran ayat 3 menyebutkan, Allah turunkan Al Quran kepada Nabi Muhammad secara berproses, bertahap, dengan cara yang benar. QS Al Furqan ayat 32 disebutkan, hal demikian supaya kami memantabkan ayat yang diturunkan itu, menghujam pada jiwamu.
Narasi kedua, yakni nazzala, dalam surat Al Baqarah ayat 185 dan QS Al Anfal ayat 41, Al Quran diturunkan sekaligus dari Lauful Mahfudz ke Baitul Izzah tanggal 17 bulan Ramadhan di hari Jumat. Sebelum diturunkan kepada Nabi Muhammad disampaikan dulu kepada seluruh penghuni langit sekaligus menunjukkan status tingginya Rasulullah SAW.

Alquran turun dengan ayat yang lengkap semuanya ketika malam Lailatul-Qadr ke bait-al-Izzah atau langit dunia dari al-Lauh al-Mahfudz. Kemudian turun secara berangsur-angsur melalui Jibril kepada Nabi Muhammad SAW selama 20 atau 23 tahun kemudian dimulai dengan 5 ayat pertama al-‘Alaq.

Bahwa Alquran diturunkan sekaligus ke langit dunia (daarul Izzah) pada malam Lailatul Qadr kemudian diturunkan dengan cara berangsur-angsur sepanjang kehidupan Nabi SAW setelah beliau diangkat menjadi Nabi di Mekah dan Madinah sampai wafat beliau.

Pendapat ini karena berdasar kepada suatu riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Hakim dalam mustadrok-nya dengan sanad yang shohih, dari Ibnu Abbas radhiyallhu ‘anhuma. Beliau mengatakan bahwasanya Alquran itu turun sekaligus ke langit dunia pada malam lailatul qodr. Kemudian diturunkan berangsur-angsur selama 20 tahun, kemudia ia mambaca surah Al-Furqan ayat 33. "Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik."

Dalam surah Al-Isra ayat 106 Allah SWT berfirman. "Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian."

Imam An-Nasa’I juga meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:“……dan Al-qur’an diletakkan di baitil izzah dari langit dunia kemudian Jibril turun dengan membawanya kepada Muhammad SAW"

Lalu apakah turunnya Lailatul Qadar tanggal 17 Ramadhan? Jawabannya kita harus merujuk pada penafsir terbaik antara lain pada hadits.

a.   HR Muslim nomor 169 menyebut, dari Sayyidah Aisyah Radiyallahu Ta'ala Anha: 'Berburulah kalian, malam Al Qadar itu di 10 hari terakhir."

b.   HR Bukhari nomor 2017 dari Sayyidah Aisyah: cari di malam-malam ganjil 21,23, 25, 27, dan 29.

c.   HR Muslim nomor 1165: cari di tujuh yang terakhir yang ganjil: malam 29.



 


Obrolan Warung Kopi-2

oleh : ASA

Dalam beberapa pekan ini banyak beredar dokumen terkait dengan konsep merdeka belajar, terutama yang disebut dengan kurikulum Prototype.  Sebetulnya saya malas membahas hal yang menurut saya terlalu jauh dari kemampuan saya. Tetapi kok banyak yang tanya pendapat saya terkait hal itu. Maka saya coba kasih analogi sedikit saja.

Ibarat masakan, Kurikulum itu seperti bahan baku yang siap diolah bagi para juru masak. Maka pemilihan bahan baku menjadi penting ditahap awal. Dan itu menjadi tugasnya para chef.  Setelah bahan baku, keterampilan para juru masak menjadi sangat penting untuk menjadikannya masakan yang diinginkan sesuai dengan menu yang ditawarkan. Sebagus apapun bahan baku masakan kalau sang juru masak tidak memiliki keterampilan memahami karakter bahan baku, cara mengolah menjadi masakan, dan menyajikannya, maka tidak ada artinya bahan baku bagus pilihan para chef  tadi. Bukan menjadi makanan yang lezat, bisa jadi melihatnya pun sudah bikin enek.

Begitupun dengan kurikulum, apapun penamaannya. Sebagus apapun dokumen kurikulum yang dibuat oleh para ahli, kalau para guru selaku juru masak tidak memiliki keterampilan memahami karakteristik bahan baku (maksudnya mata pelajaran), cara menyampaikan, dan melakukan asesmen, maka kurikulum tersebut hanya akan menjadi onggokan dokumen yang hanya dibutuhkan saat hendak akreditasi. Upaya mengubah kurikulum akan menjadi sia-sia kalau tidak disertai membekali para guru dengan keterampilan memahami kurikulum.

Lho, itulah sebabnya dokumen kurikulum diedarkan seluas-luasnya supaya guru bisa paham lebih dulu, demikian kata kawan saya. Tetapi menurut saya tidak begitu. Belajar dari dokumen saja tanpa penjelasan dari si penyusun, maka potensi salah tafsirnya akan sangat besar. Ingat, belajar tanpa guru itu akan menjadikan syetan sebagai gurunya. Dan itulah yang terjadi selama ini. Sebagian besar guru mengajar tanpa memahami kurikulum yang sebenarnya. Guru mengajar berdasarkan penafsiran dia dan pengalaman selama dia menjadi siswa dan mahasiswa. Karena bagi mereka, apapun perubahan kurikulum yang dibuat, “saya tetap mengajar dengan cara saya.”

Ngga percaya??? Memang sebaiknya tidak dipercaya.

 

Tangerang, 10 Pebruari 2022.

 


Obrolan Warung Kopi

Oleh : ASA

Suatu siang Bengbeng mampir di warung kopi di dekat sekolah Bokis, sohib kental.  Bokis itu seorang guru yang katanya sudah dapat SK sebagai pelatih ahli. Sebagai kawan semenjak kuliah, Bengbeng berprasangka baik kalau Bokis bakalan  mentraktir secangkir kopi dan pisang goreng, menu andalan disaat tanggal tua.

Tak lama Bokis pun datang. “Selamat ya Kis, sekarang sudah jadi pelatih ahli. Makin enak aja dong tugasnya, cuma ngawas-ngawasin doang.”kata Bengbeng sambil jabat tangan khas mirip anak gaul jaman sekarang. “Enak apaan? Makin berat iya” seloroh Bokis. “Lu bukannya bersyukur. Banyak lho yang pengin jadi pelatih ahli kayak kamu.”timpa Bengbeng sok tahu. “Bayangin aja, bro. Gue mesti belajar lagi soal kurikulum baru. Terus gue mesti mendampingi, menjelaskan kurikulum itu kepada para kepala sekolah dan guru-guru penggerak. Padahal gue sendiri belum begitu paham, tapi gue mesti ngejelasin ke orang lain. Berat kan?”

Tanpa diminta Bokis itu cerita panjang lebar tentang bagiamana dia mengikuti pelatihan menjadi pelatih ahli. Mulai dari cara belajarnya yang online, bahan pelatihan yang kebanyakan cuma pepete (powerpoint, maksudnya), waktu yang kadang sampai larut malam, dan lain sebagainya. Bengbeng tidak tahu persis apa yang Bokis ceritakan benar sepenuhnya atau dilebih-lebihkan supaya kelihatan heroiknya.

“Kayaknya, gue pengin jadi kayak elu aja deh. Santai, ngga banyak yang dikerjain, ah..pokoknya enak deh” “Lha, itu kan pilihan elu”,cegat Bengbeng. “Iya sih…”akhirnya Bokis tersadar, atau pura-pura sadar? Tiba-tiba Bokis bertanya hal yang membuat Bengbeng kaget. “Menurut elu, jadi guru mestinya kayak gimana sih?” tanya Bokis setelah menelan pisang goreng di mulutnya. “Ah, masa gitu aja ditanyain ke gue, kan elu pelatih ahlinya” jawab Bengbeng sambil menyeruput kopi yang tidak panas lagi. “Ini serius gue tanya elu, please” jawab Bokis sambil pasang muka memelas (didramatisir amat…).”Ciee…pakai please segala. Jadi, gini nih jadi guru menurut gue……”

Menjadi guru itu harus memiliki kemampuan untuk menterjemahkan tujuan pendidikan nasional menjadi tujuan tiap matapelajaran. Tujuan pendidikan nasional kan mencerdaskan kehidupan bangsa seperti dalam pembukaan UUD Negara kita, itu diturunkan menjadi tujuan bagi pelajaran yang kita ampu. Misalnya kita mengampu pelajaran agama, maka terjemahkan menjadi mencerdaskan kehidupan beragama para siswanya sebagai bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia kan agamanya macam-macam. Kalau itu bisa dilakukan, maka cita-cita Indonesia merdeka akan terwujud. Ya, kemanusiaannya, persatuannya, demokrasinya, termasuk keadilan dan kesejahterannya. Nah, kalau kita mengampu pelajaran bahasa, sebagai guru harus menterjemahkan mencerdaskan cara berkomunikasi dalam kehidupan berbangsa. Negara kita kan terdiri dari banyak suku dengan berbagai ragam gaya berkomunikasinya. Kalau semua guru bahasa mengajarkan cara berkomunikasi yang cerdas atawa bahasa kerennya literat maka tidak akan ada yang namanya hoaks, prank, atau apalah berita palsu yang bikin masyarakat gaduh.

“Wah, serius amat ngomongnya”. “Nah, kan elu yang ngajakin serius, gimana sih?” jawab Bengbeng agak kesal. “Iya, sori, sori. Eh, gue kan ngajar matematika, gimana dong?” “Masalah buat gue?” jawab Bengbeng makin kesal. Dan, sambil berdiri seraya merogoh saku celana, “Elu mesti pakai nalar dan logika elu dalam menghadapi persoalan hidup elu”. Seloroh Bengbeng sambil ngeloyor pergi…

 

Tangerang, 12 Pebruari 2022

Senin, 18 April 2022

 


BULAN

Oleh : ASA

 

Berbeda dengan penanggalan masehi, bulan menjadi penanda pada kalender hijriyah. Peredaran bulan mengelilingi bumi menjadi ukuran dalam menghitung lamanya bulan dan tahun. Dalam terminology hijriyah yang digunakan oleh umat Islam, bulan memiliki 3 sebutan yaitu hilal, qomar, dan badar.

Hilal adalah periode awal mula bulan mulai terlihat dari bumi. Untuk menandai hadirnya bulan (bulan baru) ada yang melalui prediksi waktu dengan metode hisab dan ada pula yang harus melihat wujud secara fisik. Perlu diketahui bahwa kenampakan bulan hanya bisa dilihat saat matahari mulai tenggelam, dan itulah awal hari dalam penanggalan hijriyah. Kemunculan hilal menjadi penanda pergantian masa, seperti apakah sudah memasuki awal bulan Ramadhan, awal bulan Syawal, awal bulan Dzulhijjah, dll. Meskipun tidak semua orang mampu melihat kehadirannya secara mata telanjang, maksud saya tanpa teleskop, tetapi semua umat muslim menantikan kehadirannya.

Periode berikutnya yang disebut dengan qomar. Merupakan kelanjutan dari hilal yang umurnya sekitar 3 hari. Dalam periode ini kenampakan bulan sudah sangat nyata dan bias dilihat dengan mata secara langsung. Bentuknya masih membentuk sabit. Masa peredaran bulan periode ini lebih lama, sekitar 10 hari. Bahkan terjadi dua kali setelah hilal dan menjelang bulan mati, bentuknya tidak sempurna dengan terlihat seperti sabit.

Sebutan ketiga adalah badar atau badrun. Pada fase ini bulan Nampak utuh penuh, bulat bundar sempurna. Kita bilang bulan sedang purnama. Saat itu memang posisi bulan sedang tidak terhalang sehingga sinar matahari secara penih dipancarkan sebagai cahaya bulan yang sempurna. Posisinya yang rata-rata tegak lurus dari bumi membuat pergerakannya seolah-olah lamban. Masa purnama tidak berlangsung lama, sekitar 3 hari. Setelah masa purnama bulan akan kembali membentuk sabit menuju akhir.

Banyak syair yang dilantunkan para penyanyi menyanjung keindahan bulan. Seperti lagu Qomarun yang dipopulerkan kembali oleh group Sabyan. Juga senandung Thal’al Badrun yang syairnya selalu disenandungkan seiring dengan peringatan kelahiran.

 

 

Tangerang, 15 Ramadhan 1443 H.