Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadr
oleh : ASA
Saudaraku!
Setiap tahun, dan tepatnya di bulan suci Ramadhan ini, banyak dari umat Islam
di sekitar anda merayakan dan memperingati suatu kejadian bersejarah yang telah
merubah arah sejarah umat manusia. Dan mungkin juga anda termasuk yang turut
serta merayakan dan memperingati kejadian itu. Tahukah anda sejarah apakah yang
saya maksudkan? Kejadian sejarah itu adalah Nuzul Qur‟an; diturunkannya Al Qur‟an secara utuh dari Lauhul Mahfud di langit ketujuh, ke
Baitul Izzah di langit dunia. Peringatan terhadap turunnya Al Qur‟an diwujudkan oleh masyarakat dalam
berbagai acara, ada yang dengan mengadakan pengajian umum. Dari mereka ada yang
merayakannya dengan pertunjukan pentas seni, semisal qasidah, hadrah, nasyid dan lainnya. Mari saya mengajak diri saya sendiri
terlebih dahulu dan umat Islam lainnya untuk senantiasa kita membaca dan
mempelajari
Al-Quran. Membaca dan mempelajari Al-Quran harus dijadikan tradisi
oleh masing-masing keluarga Islam di muka bumi ini, kalau gerakan ini
berlanjut, maka bukan tidak mungkin dunia nanti akan dipenuhi nilai-nilai Quran
dan saat itulah peradaban baru dunia itu muncul, yaitu peradaban yang bersumber
dari nilai-nilai AlQuran. Mengapa kita harus membudayakan membaca dan
mempelajari Al-Quran? Karena selaku umat Islam kita yakin bahwa Al-Quran
merupakan pedoman hidup yang kompleks dan memuat sejumlah kebutuhan manusia,
baik materiil maupun spiritual. Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad
memang diperuntukkan kepada manusia agar dia mendapat rahmat dan kegembiraan
dari Allah SWT. Membicarakan tentang Nuzulul Qur‟an (turunnya Alqur‟an) maka pasti tidak akan lepas pula membicarakan soal
Lailatul Qadr dan Bulan Ramadhan. Karena memang antara ketiga hal tersebut
terdapat hubungan yang saling kait mengkait. Allah Swt berfirman dalam Surat
Al-Qadr ayat 1 yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Alqur‟an) pada malam Qadr (Laelatul Qadr)”. Kemudian dalam Surat AdDukhan ayat 3 disebutkan pula yang artinya,
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi (malam
permulaan Al-Qur‟an pertama
kali diturunkan)”. Selain dua ayat diatas, dalam Surat Al-Baqarah ayat 185
Allah Swt berfirman yang artinya, “Bulan Ramadhan adalah bulan dimana di dalamnya
diturunkan (permulaan) Alqur‟an, sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan
pembeda (antara yang hak dan batil)…”. Mengenai persoalan bahwasanya Al-Qur‟an untuk pertama kali diturunkan dari
Lauhil Mahfudz sampai ke Batil „Izzah (Langit Dunia) yaitu pada Malam Qadr di
bulan suci Ramadhan, para ulama mayoritas telah bermufakat semuanya. Dimana
dari Baitil „Izzah ini, malaikat Jibril as kemudian mengantarkannya kepada nabi
Muhammad Saw secara step by step selama kurun waktu sekitar 23 tahunan. Akan
tetapi ketika diperinci lebih lanjut pada tanggal berapa persis sebenarnya saat
nuzulul qur‟an itu
terjadi? Maka disini mulai terjadi perbedaan pendapat dikalangan „ulama. Kontek perbedaan pendapat ini sebetulnya bermuara pada batasan
waktu kapan terjadinya Laelatul Qadr itu. Ada yang berpendapat di hari – hari
ganjil „asyrul awakhir bulan suci Ramadhan sebagaimana dijelaskan dalam sebuah
hadits. Ada pula yang mengatakan pada 27 Ramadhan. Dan ada lagi yang
berpendapat bahwa khusus Laelatul Qadr saat nuzulul qur‟an itu terjadi yakni pada tanggal 17 Ramadhan. Karena
keterkaitannya Surat Al-Qadr ayat 1 dengan isyarat yang disampaikan oleh Allah
Swt pada Surat Al-Anfal 41 yang berbunyi ; Artinya, “…jika kamu beriman kepada
Allah dan kepada apa yang kami turunkan (AlQur‟an) kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di
hari bertemunya dua pasukan”. Yang dimaksud dengan hari Furqan atau hari bertemunya dua
pasukan adalah hari pertempuran perang Badr. Peristiwa perang tersebut terjadi
pada tanggal 17 Ramadhan 02 H. Atau jatuh pada hari Selasa 13 Maret 624 M.
Adapun pendapat yang mengatakan bahwa peristiwa perang Badar itu terjadi pada
hari Jum‟at adalah pendapat yang lemah (karena
salah dalam mengkonversi). Dan pendapat bahwasanya Nuzulul Qur‟an itu terjadi pada tanggal 17 Ramadhan
inilah pendapat terbanyak yang dipakai di Indonesia. Sehingga tiap – tiap tanggal 17 Ramadhan umat islam di Indonesia banyak yang
memperingatinya. Peristiwa turunnya Alquran atau sering disebut sebagai Nuzulul
Qur‟an merupakan hal yang sampai saat ini
selalu diperingati oleh sebagian umat Islam di dunia. Di seluruh negara Arab
dilakukan tradisi syiar atau menyemarakkan bulan Ramadhan dengan berbagai
kegiatan. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah dengan memperingati
Lailatul Qadr yang biasanya ini serempak dirayakan oleh umat Islam di seluruh
negara Arab pada malam ke-27. (Musthafa Luthfi, Harian Pelita, 01 September
2009). Sementara itu, dalam memperingati turunnya Alqur‟an, di Indonesia dilaksanakan peringatan “Nuzulul Qur‟an” pada malam ke-17 Ramadhan. Berbeda dengan umat Islam di Arab, di
Indonesia, banyak umat Islam yang menyangka peristiwa Nuzulul Qur‟an itu berbeda dengan Lailatul Qadr.
Padahal jika dilihat dalam sejarah, kedua hal ini sebenarnya tidak bisa
dipisahkan. Lantas, mengapa umat Islam Indonesia memperingati turunnya Alqur‟an pada malam 17 Ramadhan? Dalam situs
wikipedia dijelaskan bahwa awal diperingatinya Nuzulul Qur‟an di Indonesia, yaitu ketika Presiden Soekarno mendapat
saran dari Buya Hamka untuk memperingati Nuzulul Qur‟an setiap tanggal 17, karena bertepatan dengan tanggal
Kemerdekaan Indonesia, dan sebagai rasa syukur kemerdekaan Indonesia. Memang,
dari dahulu telah ada perbedaan pendapat para ulama mengenai tanggal pasti turunnya
Alqur‟an pertama kalinya, yang kemudian
diperingati sebagai malam Nuzulul Qur‟an. Rasulullah Saw. pernah mengabarkan tentang kapan akan
datangnya malam Lailatul Qadr. Beliau bersabda: “Carilah
malam Lailatul Qadr di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan”
(HR. Bukhari dan Muslim); dalam Hadis yang lain juga dijelaskan: “Berusahalah
untuk mencarinya pada sepuluh hari terakhir, apabila kalian lemah atau kurang
fit, maka jangan sampai engkau lengah pada tujuh hari terakhir” (HR. Bukhori
dan Muslim). Berdasarkan hadis di atas, diketahui bahwa Lailatul Qadr terjadi
pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan yaitu pada malam-malam ganjilnya 21,
23, 25, 27 atau 29 Ramadhan. Keterangan bahwa turunnya Alqur‟an pada 10 hari terakhir Ramadhan diperkuat
oleh Syeikh Safiur Rahman Mubarakpuri, penulis Sirah Nabawiyah. Mubarakpuri
dalam buku Cahaya Di Atas Cahaya (2008: 40) menjelaskan bahwa Nabi Muhammad
Saw. mendapat wahyu pertama pada malam senin, tanggal 21 Ramadhan (10 Agustus
610 M.). Menurut kalender yang didasarkan pada perputaran bulan (Qamariyah),
saat itu Nabi berusia 40 tahun 6 bulan 12 hari. Sedangkan menurut kalender
Masehi, Nabi berusia 39 tahun 3 bulan 22 hari. Keterangan Mubarakpuri di atas
menguatkan pernyataan bahwa Alqur‟an pertama
sekali turun pada tanggal 21 Ramadhan dan bukan pada tanggal 17 Ramadhan.
Berdasarkan berbagai keterangan di atas, Alqur‟an diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. pertama
kalinya pada malam Lailatul Qadr, yang oleh sumber sejarah dijelaskan bahwa
Nabi menerima wahyu pada malam 21 Ramadhan. Jadi peristiwa Nuzulul Qur‟an pertama sekali terjadi pada tanggal
21 Ramadhan, tepatnya pada hari senin, sebab sebagi besar ahli sejarah sepakat
bahwa diangkatnya beliau menjadi Nabi adalah pada hari Senin. Dalil ini
dianggap kuat karena Rasulullah ketika ditanya tentang puasa Senin beliau
menjawab: “Di dalamnya aku dilahirkan dan di dalamnya diturunkan (wahyu)
atasku” (HR. Muslim). Peristiwa turunnya Alqur‟an (Nuzulul Qur‟an)
sebagaimana yang biasa diperingati oleh umat Islam Indonesia pada dasarnya
tidak dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabatnya dan para tabi‟in. Jika pun perayaan Nuzulul Qur‟an tetap diperingati dengan niat dan
alasan yang baik, hendaknya bukanlah sekadar seremonial belaka, tetapi melalui
peringatan tersebut esensi AlQur‟an sebagai „peringatan bagi umat manusia‟ dapat
membawa bekas dalam diri umat Islam yang memperingatinya. Sebagaimana Alqur‟an menjelaskan: “Ini adalah
sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam
dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang
kafir) dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman” (Al-A‟raaf: 2). Wallahu A‘lam




