SAKIT dan PURA-PURA SAKIT
Sururi Aziz
“Sakit mendadak”
seolah-olah menjadi trend belakangan ini, terutama dialami oleh mereka yang
sedang berkasus atau berhubungan dengan pihak berwajib. Berurusan dengan hukum memang
bikin stress. Saya punya pengalaman pribadi saat menjadi saksi sebuah kasus hukum.
Meskipun bukan perkara pidana, pemeriksaan sebagai saksi oleh tim penyidik memang
membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pertanyaan yang berulang, menanyakan
maksud yang sebenarnya sudah jelas, juga terkadang muncul pertanyaan yang tidak
berhubungan langsung dengan pokok kasus. Sebagai saksi saja saya cukup stress dan
lelah.
Saya membayangkan mereka
yang secara psikologis di”terror” oleh gaya tim penyidik mengorek keterangan. Apalagi
jika diminta keterangan sebagai tersangka kasus pidana. Berbagai jenis penyakit
dadakan bisa jadi segera muncul. Stress adalah awal mulanya.
Sebagai gambaran, saya
mencoba merangkum jenis-jenis penyakit yang timbul karena dampak psikologis. Silakan
disimak.
1.
MALINGERING
Tak disangkal, mungkin
banyak di antara kita sering beralasan malingering atau berpura-pura sakit. Entah itu karena malas bekerja, malas kuliah,
atau malas pergi, maka pura-pura sakit biasanya ampuh dijadikan alasan.
Malingering seperti yang
ditulis Psikiater Klinik Psikosomatik dr Andri SpKJ FAPM dalam tulisannya
berjudul 'Malingering atau Berpura-Pura Sakit', tidak dianggap sebagai gangguan
jiwa.
Disebutkan, dalam Buku
Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental atau DSM-5 edisi terakhir
terbitan American Psychiatric Association menyatakan malingering menerima kode
V sebagai salah satu kondisi lain yang mungkin menjadi fokus perhatian klinis.
"Motivasi untuk
malingering biasanya bersifat eksternal misalnya menghindari tugas militer atau
pekerjaan, mendapatkan kompensasi finansial, menghindari tuntutan pidana, atau
mendapatkan obat-obatan terlarang," tulis Andri.
Jadi malingering adalah
perilaku yang disengaja untuk tujuan eksternal yang diketahui. Ini tidak
dianggap sebagai bentuk gangguan jiwa atau psikopatologi, meski bisa terjadi
dalam konteks gangguan jiwa lainnya.
Ada empat hal yang menjadi
tanda seseorang melakukan malingering seperti ditulis dalam
DSM-5, yaitu :
1.
Masalah medikolegal
(misalnya, seorang pengacara merujuk pasien, seorang pasien mencari kompensasi
karena cedera)
2.
Perbedaan yang ditandai
antara tekanan yang diklaim dan temuan objektif
3.
Kurangnya kerjasama selama
evaluasi dan dalam mematuhi perlakuan yang ditentukan
4.
Adanya gangguan kepribadian
antisosial
2. SKIZOFRENIA
Skizofrenia
adalah gangguan mental kronis yang menyebabkan
penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan
perilaku. Kondisi yang biasanya berlangsung lama ini sering diartikan sebagai
gangguan mental mengingat sulitnya penderita membedakan antara kenyataan dengan
pikiran sendiri.
Penyakit
skizofrenia bisa diidap siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Kisaran
usia 15-35 tahun merupakan usia yang paling rentan terkena kondisi ini.
Penyakit skizofrenia diperkirakan diidap oleh satu persen penduduk dunia.
Menurut
data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) yang dipublikasikan
pada tahun 2014, jumlah penderita skizofrenia di Indonesia diperkirakan
mencapai 400 ribu orang.
Di
Indonesia, akses terhadap pengobatan dan pelayanan kesehatan jiwa masih belum
memadai. Akibatnya, sebagian besar penduduk di negara ini, terutama di
pelosok-pelosok desa, kerap memperlakukan pasien gangguan jiwa dengan tindakan
yang tidak layak seperti pemasungan.
Penyebab skizofrenia
Sebenarnya
para ahli belum mengetahui apa yang menjadi penyebab skizofrenia secara pasti.
Kondisi ini diduga berisiko terbentuk oleh kombinasi dari faktor psikologis,
fisik, genetik, dan lingkungan.
Diagnosis dan pengobatan skizofrenia
Jika Anda
memiliki kerabat atau teman-teman yang menunjukkan gejala skizofrenia, segera
bawa ke dokter. Makin cepat penyakit ini terdeteksi, semakin baik. Peluang
sembuh penderita skizofrenia akan lebih besar jika diobati sedini mungkin.
Karena
skizofrenia merupakan salah satu jenis gangguan mental, maka pemeriksaan harus
dilakukan oleh dokter spesialis kejiwaan atau psikiater. Penyakit skizofrenia
akan terdeteksi pada diri pasien jika:
·
Mengalami
halusinasi, delusi, bicara
meracau, dan terlihat datar secara emosi.
·
Mengalami
penurunan secara signifikan dalam melakukan tugas sehari-hari, termasuk
penurunan dalam produktivitas kerja dan prestasi di sekolah akibat
gejala-gejala di atas.
·
Gejala-gejala
di atas bukan disebabkan oleh kondisi lain, seperti gangguan bipolar atau efek samping penyalahgunaan
obat-obatan.
Dalam
mengobati skizofrenia, dokter biasanya akan mengombinasikan terapi perilaku
kognitif (CBT) dengan obat-obatan antipsikotik. Untuk memperbesar peluang
sembuh, pengobatan juga harus ditunjang oleh dukungan dan perhatian dari
orang-orang terdekat.
Meskipun
sudah sembuh, penderita skizofrenia tetap harus dimonitor. Biasanya dokter akan
terus meresepkan obat-obatan untuk mencegah gejala kambuh. Selain itu, penting
bagi penderita untuk mengenali tanda-tanda kemunculan episode akut dan bersedia
membicarakan kondisinya pada orang lain.
Gejala
skizofrenia dibagi menjadi dua kategori, yaitu negatif dan positif. Gejala
negatif skizofrenia menggambarkan
hilangnya sifat dan kemampuan tertentu yang biasanya ada di dalam diri orang
yang normal. Sebagai contoh,
·
Keengganan
untuk bersosialisasi dan tidak nyaman berada dekat dengan orang lain sehingga
lebih memilih untuk berdiam di rumah.
·
Pola
tidur yang berubah.
·
Kehilangan
minat dan motivasi dalam segala aspek hidup, termasuk minat dalam menjalin
hubungan
Perubahan
pola tidur, sikap tidak responsif terhadap keadaan, dan kecenderungan untuk
mengucilkan diri merupakan gejala-gejala awal skizofrenia. Terkadang gejala
tersebut sulit dikenali orang lain karena biasanya berkembang di masa remaja
sehingga orang lain hanya menganggapnya sebagai fase remaja.
Ketika
penderita sedang mengalami gejala negatif, dia akan terlihat apatis dan datar
secara emosi (misalnya bicara monoton tanpa intonasi, bicara tanpa ekspresi
wajah, dan tidak melakukan kontak mata). Mereka juga menjadi tidak peduli
terhadap penampilan dan kebersihan diri, serta makin menarik diri dari
pergaulan. Sikap tidak peduli akan penampilan dan apatis tersebut bisa
disalahartikan orang lain sebagai sikap malas dan tidak sopan. Hal ini sering
kali memicu rusaknya hubungan penderita dengan keluarga ataupun dengan
teman-temannya.
Gejala
negatif skizofrenia bisa berlangsung beberapa tahun sebelum penderita mengalami
episode akut pertama, yaitu ketika gejala menjadi parah dan kadang-kadang
diikuti beberapa gejala positif.
Gejala
positif skizofrenia terdiri dari:
·
Halusinasi. Terjadi pada saat panca indera
seseorang terangsang oleh sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Fenomena
halusinasi terasa sangat nyata bagi penderita. Contoh gejala halusinasi yang
biasanya dialami oleh penderita skizofrenia adalah mendengar suara-suara.
·
Delusi. Yaitu kepercayaan kuat yang tidak didasari logika atau
kenyataan yang sebenarnya. Contoh gejala delusi bisa bermacam-macam. Ada
penderita yang merasa diawasi, diikuti, atau khawatir disakiti oleh orang lain.
Ada juga yang merasa mendapat pesan rahasia dari tayangan televisi.
Gejala-gejala delusi semacam ini bisa berdampak kepada perilaku penderita
skizofrenia.
·
Pikiran kacau dan perubahan perilaku. Penderita sulit
berkonsentrasi dan pikirannya seperti melayang-layang tidak tentu arah sehingga
kata-kata mereka menjadi membingungkan. Penderita juga bisa merasa kehilangan
kendali atas pikirannya sendiri. Perilaku penderita skizofrenia juga menjadi
tidak terduga dan bahkan di luar normal. Misalnya, mereka menjadi sangat
gelisah atau mulai berteriak-teriak dan memaki tanpa alasan.
Penting
untuk mengenali gejala-gejala skizofrenia seperti di atas. Jika Anda atau
keluarga Anda mengalami gejala-gejala tersebut, segera periksakan ke rumah
sakit. Makin dini skizofrenia ditangani, maka peluang sembuh menjadi makin
tinggi.
3. PSIKOSOMATIK
Psikosomatis
adalah keluhan fisik yang disebabkan atau diperburuk oleh faktor psikologis
(pikiran). Hal ini sesuai dengan kata psikosomatis itu sendiri yang berasal
dari kata pyscho yang berarti pikiran dan soma yang berarti tubuh atau fisik.
Bahkan ada istilah khusus yang untuk menamai kondisi ini “penyakit
pikiran”, karena setiap keluhan muncul ketika seseorang memiliki beban fikiran,
stress, dan sebagainya. Kasus pasien-pasien dengan keluhan psikosomatis ini
cukup banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, ada orang
yang sama sekali tidak dapat menggerakkan kakinya dengan alasan kakinya tidak
bertenaga, padahal dari pemeriksaan fisik seluruh tubuh termasuk kakinya dalam
keadaan normal dan tidak ada gangguan apapun.
Pada kasus-kasus lainnya, pasien mengeluhkan berbagai macam
keluhan yang tersebar di seluruh tubuhnya, padahal dari pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang didapatkan hasil yang normal. Itulah psikosomatis,
ada keluhan tetapi tidak ada penyakitnya, tidak dapat dijelaskan secara medis.
Adanya gangguan psikologis, lama kelamaan dapat juga menimbulkan gangguan pada
kesehatan fisik. Apabila ada gangguan psikologis yang menyebabkan pasien tidak
mau makan, maka lama kelamaan dapat menimbulkan nyeri ulu hati, dehidrasi,
kekurangan nutrisi dan sebagainya. Selain itu faktor psikologis juga dapat
memperburuk penyakit fisik seseorang seperti gangguan kulit (psoriasis dan
eksema), tekanan darah tinggi, kencing manis dan penyakit jantung. Dari setiap
penyakit fisik pasti dipengaruhi oleh faktor psikologis. Akan tetapi bagaimana
kita bereaksi atau bersikap terhadap suatu penyakit sangat bervariasi dari satu
orang ke orang yang lain. Sebagai contoh jerawat, pada sebagian besar orang
bukanlah masalah yang berarti. Namun ada juga orang yang mengalami jerawat
sampai merasa depresi. Pada pasien-pasien psikosomatis tersebut, yang
dibutuhkan bukan obat untuk mengobati keluhannya, melainkan obat untuk
memperbaiki masalah psikologisnya. Seperti kita ketahui bahwa kondisi
fisik pasien tersebut sejatinya dalam keadaan sehat.
Disarikan dari berbagai sumber
Jakarta, 20 November 2017


