TRADISI dan LEBARAN (2)
Secara bahasa kolak merupakan serapan dari
kata “Kholaqo” dalam bahasa Arab, yang berarti membuat, mencipta, menjadikan.
Filosofinya, puasa adalah sebuah proses untuk mengubah bagi tiap manusia yang
berpuasa agar berubah menjadi orang yang lebih baik secara lahir maupun bathin.
BEDA ANAK LELAKI DAN PEREMPUAN
Setiap
daerah punya tradisi yang mungkin berbeda satu sama lain dalam menyambut
Ramadhan. Begitu pun epanjang Ramadhan, dari sisi aktivitas kebiasaan maupun
tradisi dalam hal makanan. Bagi kami,
yang lahir dan dibesarkan di kota kecil di pesisir utara pulau jawa ini,
Ramadhan adalah bulan pelatihan. Ya, terutama bagi kami yang laki-laki. Sebagian
besar dari anak laki-laki yang sudah bersekolah setingkat SD hingga SMA, adalah
wajib tiap malamnya untuk tidak tidur di rumah. Sudah menjadi kebiasaan bagi
anak laki-laki untuk “ngalong” atau tidur di langgar atau mushola juga masjid.
Sudah menjadi
kebiasaan di kampong kami, setiap menjelang berbuka puasa anak perempuan
membantu ibu di dapur. Sementara anak laki-laki harus ke langgar untuk
mengikuti kajian hadits hingga berbuka. Sungguh sangat menyenangkan. Biasanya
kajiannya seputar kitab Arba’in atau Safinatun Najjah, dan lainnya. Sebenarnya,
secara jujur bukan saja kajiannya yang membuat kami bersemangat. Hal lain yang
membuat kami bersemangat adalah saat kami mendapat giliran menyiapkan menu
berbuka. Meskipun hanya menyiapkan the manis panas dalam gelas sejumlah
rata-rata 80 – 100 gelas, tetapi karena biasanya menu utama berupa “nasi
ponggol” akan diantar oleh anak-anak perempuan dari keluarga yang mendapat
giliran jatah menyediakan sajian berbuka. Saat itulah biasanya kami rela
menunggu lebih lama di dapur dibanding mendengarkan kajian.
Selepas shalat
maghrib, kami tidak pulang ke rumah. Sambil menunggu tibanya shalat 'Isya dan
taraweh kami bermain perang “dor-dar” atau bakar petasan buatan sendiri. Dor-dar
adalah meriam sundut dengan bahan bakar karbit yang dibuat dari potongan bamboo
jenis betung dengan diameter lingkaran sekitar 20 cm. Perang akan selesai
begitu adzan terdengar.
Sebagai kampong
yang kental dengan nuansa Nahdliyin, tentu kami shalat tarawih 20 rakaat
ditambah 3 rakaat witir. Tiap salam 2 rakaat diiringi shalawt yang berbeda-beda
sehingga kami selalu menandai banyaknya shalat yang sudah terlaksana dengan
bacaan shalawatnya. Misalnya, kalau bilal sudah memimpin shalat “Ya Allah Biha bi husnil khatimah” itu
tandanya sudah rakaat yang 12, atau shalawat “Ya Rabbi bil musthofa“, itu tandanya akan memasuki rakaat ke 17,
dan seterusnya.
Selesai tarawih
kami langsung bertadarus atau nderes
minimalnya satu juz. Meskipun bergiliran, tetapi suara kami harus
diperdengarkan menggunakan alat pengeras suara atau speaker. Tujuannya adalah control bagi orang tua sebagai alat absensi
dan juga guru ngaji kami untuk memantau bacaannya benar atau tidak. Selesai tadarus biasanya ada jaburan berupa gorengan plus kopi atau teh.
Hampir tiap
malam, kami tidak pernah tidur, karena harus keliling untuk membangunkan dengan
kentongan bamboo, bendug langgar, dan alat lain seketemunya. Keliling sahur
selalu dimulai pukul 02.30 hingga 03.30., sesudah itu kami pulang untuk makan
sahur bersama keluarga. Sepanjang keliling sahur itulah terkadang kenakalan
kami muncul, terutama kalau lewat daerah yang ada pohon manga yang sedang
berbuah, pohon jambu, atau jenis pohon lain yang buahnya bisa langsung
disantap. Dan yang jadi rahasia umum adalah memanggil-manggil nama anak gadis “incaran”
saat lewat di depan rumahnya.
Tiba waktunya
shalat shubuh biasanya bersamaan datangnya dengan rasa kantuk. Maka tidak heran
sebagian dari kami mencari tempat favorit untuk bersandar bahkan meringkuk
selama shalat hingga kuliah shubuh. Herannya, begitu selesai kami akan segera
terbangun dan bergegas untuk melanjutkan aktivitas berikutnya, yaitu olah raga
pagi. Ada yang lari, senam, tapi sebagian besar dari kami hanya jalan-jalan
sambil saling menggoda laki dan perempuan. Mungkin ini yang disebut dengan “asmara
shubuh”
KOLAK
Kolak selalu
menjadi menu wajib tiap berbuka puasa bagi kami, Bahkan hingga kini sebagian
orang di sebagian besar daerah di Indonesia, kolak juga menjadi menu wajib. Belum
berbuka rasanya kalau belum ada kolak. Bahan pembuat kolak bisa bermacam-macam.
Pisang, ubi, singkong/tape, labu, dan lain-lain merupakan bahan yang sering
digunakan dalam keluarga kami.
Mengapa harus
kolak? Tidak takut diabetes? Menurut mbah putri, belum pernah ada kasus
penyakit diabetes karena makan kolak selama Ramadhan. Meskipun mengandung
santan dan gula merah, kolak merupakan sumber energy yang bisa memulihkan
tenaga sepanjang siang berpuasa.
Secara bahasa
kolak merupakan serapan dari kata “Kholaqo”
dalam bahasa Arab, yang berarti membuat, mencipta, menjadikan. Filosofinya,
puasa adalah sebuah proses untuk mengubah bagi tiap manusia yang berpuasa agar
berubah menjadi orang yang lebih baik secara lahir maupun bathin. Maka dengan
berpuasa sebulan penuh, diharapkan akan lahir manusia-manusia dengan jiwa yang
baru yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Tentu indikatornya adalah
perilaku setelah berlebaran. Secara fisik juga akan menjadikan kita menjadi
lebih sehat.
Tangerang,
12 Juni 2017, bertepatan dengan hari ke-17 Ramadhan 1438 H.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar