Minggu, 11 Juni 2017

Tradisi dan Lebaran (2)



TRADISI dan LEBARAN (2)

Secara bahasa kolak merupakan serapan dari kata “Kholaqo” dalam bahasa Arab, yang berarti membuat, mencipta, menjadikan. Filosofinya, puasa adalah sebuah proses untuk mengubah bagi tiap manusia yang berpuasa agar berubah menjadi orang yang lebih baik secara lahir maupun bathin.

BEDA ANAK LELAKI DAN PEREMPUAN
Setiap daerah punya tradisi yang mungkin berbeda satu sama lain dalam menyambut Ramadhan. Begitu pun epanjang Ramadhan, dari sisi aktivitas kebiasaan maupun tradisi dalam hal makanan. Bagi kami, yang lahir dan dibesarkan di kota kecil di pesisir utara pulau jawa ini, Ramadhan adalah bulan pelatihan. Ya, terutama bagi kami yang laki-laki. Sebagian besar dari anak laki-laki yang sudah bersekolah setingkat SD hingga SMA, adalah wajib tiap malamnya untuk tidak tidur di rumah. Sudah menjadi kebiasaan bagi anak laki-laki untuk “ngalong” atau tidur di langgar atau mushola juga masjid.
Sudah menjadi kebiasaan di kampong kami, setiap menjelang berbuka puasa anak perempuan membantu ibu di dapur. Sementara anak laki-laki harus ke langgar untuk mengikuti kajian hadits hingga berbuka. Sungguh sangat menyenangkan. Biasanya kajiannya seputar kitab Arba’in atau Safinatun Najjah, dan lainnya. Sebenarnya, secara jujur bukan saja kajiannya yang membuat kami bersemangat. Hal lain yang membuat kami bersemangat adalah saat kami mendapat giliran menyiapkan menu berbuka. Meskipun hanya menyiapkan the manis panas dalam gelas sejumlah rata-rata 80 – 100 gelas, tetapi karena biasanya menu utama berupa “nasi ponggol” akan diantar oleh anak-anak perempuan dari keluarga yang mendapat giliran jatah menyediakan sajian berbuka. Saat itulah biasanya kami rela menunggu lebih lama di dapur dibanding mendengarkan kajian.
Selepas shalat maghrib, kami tidak pulang ke rumah. Sambil menunggu tibanya shalat 'Isya dan taraweh kami bermain perang “dor-dar” atau bakar petasan buatan sendiri. Dor-dar adalah meriam sundut dengan bahan bakar karbit yang dibuat dari potongan bamboo jenis betung dengan diameter lingkaran sekitar 20 cm. Perang akan selesai begitu adzan terdengar.
Sebagai kampong yang kental dengan nuansa Nahdliyin, tentu kami shalat tarawih 20 rakaat ditambah 3 rakaat witir. Tiap salam 2 rakaat diiringi shalawt yang berbeda-beda sehingga kami selalu menandai banyaknya shalat yang sudah terlaksana dengan bacaan shalawatnya. Misalnya, kalau bilal sudah memimpin shalat “Ya Allah Biha bi husnil khatimah” itu tandanya sudah rakaat yang 12, atau shalawat “Ya Rabbi bil musthofa“, itu tandanya akan memasuki rakaat ke 17, dan seterusnya.
Selesai tarawih kami langsung bertadarus atau nderes minimalnya satu juz. Meskipun bergiliran, tetapi suara kami harus diperdengarkan menggunakan alat pengeras suara atau speaker. Tujuannya adalah control bagi orang tua sebagai alat absensi dan juga guru ngaji kami untuk memantau bacaannya benar atau tidak.  Selesai tadarus biasanya ada jaburan berupa gorengan plus kopi atau teh.
Hampir tiap malam, kami tidak pernah tidur, karena harus keliling untuk membangunkan dengan kentongan bamboo, bendug langgar, dan alat lain seketemunya. Keliling sahur selalu dimulai pukul 02.30 hingga 03.30., sesudah itu kami pulang untuk makan sahur bersama keluarga. Sepanjang keliling sahur itulah terkadang kenakalan kami muncul, terutama kalau lewat daerah yang ada pohon manga yang sedang berbuah, pohon jambu, atau jenis pohon lain yang buahnya bisa langsung disantap. Dan yang jadi rahasia umum adalah memanggil-manggil nama anak gadis “incaran” saat lewat di depan rumahnya.
Tiba waktunya shalat shubuh biasanya bersamaan datangnya dengan rasa kantuk. Maka tidak heran sebagian dari kami mencari tempat favorit untuk bersandar bahkan meringkuk selama shalat hingga kuliah shubuh. Herannya, begitu selesai kami akan segera terbangun dan bergegas untuk melanjutkan aktivitas berikutnya, yaitu olah raga pagi. Ada yang lari, senam, tapi sebagian besar dari kami hanya jalan-jalan sambil saling menggoda laki dan perempuan. Mungkin ini yang disebut dengan “asmara shubuh”
KOLAK
Kolak selalu menjadi menu wajib tiap berbuka puasa bagi kami, Bahkan hingga kini sebagian orang di sebagian besar daerah di Indonesia, kolak juga menjadi menu wajib. Belum berbuka rasanya kalau belum ada kolak. Bahan pembuat kolak bisa bermacam-macam. Pisang, ubi, singkong/tape, labu, dan lain-lain merupakan bahan yang sering digunakan dalam keluarga kami.
Mengapa harus kolak? Tidak takut diabetes? Menurut mbah putri, belum pernah ada kasus penyakit diabetes karena makan kolak selama Ramadhan. Meskipun mengandung santan dan gula merah, kolak merupakan sumber energy yang bisa memulihkan tenaga sepanjang siang berpuasa.
Secara bahasa kolak merupakan serapan dari kata “Kholaqo” dalam bahasa Arab, yang berarti membuat, mencipta, menjadikan. Filosofinya, puasa adalah sebuah proses untuk mengubah bagi tiap manusia yang berpuasa agar berubah menjadi orang yang lebih baik secara lahir maupun bathin. Maka dengan berpuasa sebulan penuh, diharapkan akan lahir manusia-manusia dengan jiwa yang baru yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Tentu indikatornya adalah perilaku setelah berlebaran. Secara fisik juga akan menjadikan kita menjadi lebih sehat.

Tangerang, 12 Juni 2017, bertepatan dengan hari ke-17 Ramadhan 1438 H.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar