LEBARAN dan TRADISI (1)
MENYAMBUT
RAMADHAN
Tiap kali
lebaran menjelang, yang terbayang adalah berkumpulnya sanak keluarga dan para
kerabat. Dalam suasana penuh kebahagiaan, saling bermaafan, dan saling menebar
pujian. Dan yang tak kalah seru setiap momen lebaran adalah berburu makanan
khas yang cenderung makin menghilang. Nah, kali ini saya mau cerita tentang
pernak-pernik pengalaman berlebaran di kampong halamanku tercinta : TEGAL, KOTA
BAHARI.
Kesan lebaranhan
saya mulai dari menyambut awal ramadhan. Sepekan menjelang ramadhan tiba, di
setiap rumah nampak kesibukan yang hamper sama, bersih-bersih. Ya,
bersih-bersih rumah, kebun, dan apa pun yang menjadi tempat yang sering kami
sambangi. Tentu saja termasuk di dalamnya ada langgar atau mushola. Kaum perempuan
kebagian membersihkan perabot rumah tangga, termasuk sprei, gordyn, sarung
bantal, dll. untuk dicuci. Sementara kaum laki-laki membersihkan kebun dan
rumah, mengganti cat rumah kalau perlu, memeriksa genteng dan atap rumah,
dll. Semua harus dalam keadaan bersih.
Selain bersih-bersih,
para lelaki juga membuat obor. Ada yang terbuat dari bamboo da nada pula yang
memanfaatkan botol atau kaleng bekas. Obor akan dipasang di depan rumah dan
tepi jalan. Kampung kami menjadi terang oleh lautan obor. Ini yang membuat
kami, anak-anak menjadi semangat untuk pergi ke langgar untuk shalat tarawih
maupun shalat subuh berjamaah. Tetapi seiring dengan semakin
terang-benderangnya kampong kami, obor hanya dipasang di depan rumah sebagai symbol.
Sehari
menjelang awal ramadhan, atau yang lebih dikenal dengan munggahan suasana makin semarak. Selepas shalat ashar, para lelaki
berziarah ke makam. Biasanya kami sambil membawa kembang atau setidaknya irisan
pandan untuk ditabur di atas makam. Selain untuk berdoa dan membersihkan makam,
di area pemakaman biasanya juga menjadi ajang silaturahim antartetangga atau
kerabat jauh. Ada yang sengaja pulang kampong bagi mereka yang merantau. Maklum,
orang Tegal memang dikenal sebagai perantau. Seringkali pula terjadi
kesepakatan untuk mengadakan acara hala bi halal yang dikemas dengan acara
tabligh akbar.
Sementara itu,
para kaum ibu eh perempuan memasak untuk hantaran kepada para tetangga. Kita
saling kirim dengan cara yang amat sederhana. Tugas anak perempuan adalah
mengantarkan masakan dengan menggunakan piring dan kembalinya diisi oleh makanan
dari yang dikirim. Ada yang unik menurut saya. Semua menyiapkan masakan yang
berbahan dasar ketan. Ada ketan yang dikukus campur kacang merah atau potongan
kecil kelapa, ada pula yang membuat ketan yang hanya dibubuhi dengan parutan
kelapa atau serundeng, ada pula yang menggunakan abon sebagai toppingnya. Kalau
kebiasaan keluarga saya adalah ketan dengan topping pencok (serundeng yang ditumbuk halus, ini pekerjaan
saya malam sebelumnya).
MENGAPA PAKAI KETAN ?
Tradisi turun
temurun ini selalu kami jalani tanpa pernah bertanya. Termasuk kenapa semua
hantaran berbahan dasar ketan. Namun dalam sebuah kesempatan, saya sempat
menanyakan hal tersebut kepada simbah putri alias nenek. Saya mendapatkan
jawaban yang menurut saya cukup filosofis. Tapi, entah benar atau tidak, itulah
jawaaban mbah putri.
Pertama,
ketan adalah akronim dari pengiket (pengikat) setan.
Para leluhur mempercayai bahwa selama Ramadhan para setan itu diikat di neraka agar
tidak menggoda manusia yang sedang menjalankan ibadah dibulan Ramadhan.
Sehingga selama Ramadhan para manusia bisa menjalankan ibadah dengan khusyu’. Dikirim
kepada para tetangga tujuannya adalah untuk saling mengingatkan satu sama lain.
Sebab setan itu penuh tipu muslihat, meskipun sudah diikat di neraka tetapi
terkadang ada manusia yang sudah terlanjur menjadi rumah bagi setan. Begitu kata
mbah putri.
Kedua, ketan
berasal dari kata Khatha’an (bahasa Arab)
yang berarti kesalahan, kekeliruan. Munggahan sendiri berarti kenaikan. Jadi,
yang dimaksudkan saling mengirim ketan pada saat munggahan diharapkan semua
kesalahan atau kekeliruan yang diperbuat selam ini akan diangkat untuk
diampuni. Itulah kenapa setiap menjelang Ramadhan kita disarankan untuk saling
memaafkan sehingga sepanjang Ramadhan kita menjalankan ibadah dalam keadaan
suci. Makanya Ramadhan disebut bulan suci.
Nah, itu
tradisi di kampong halaman kelahiran saya, TEGAL KOTA BAHARI. Tradisi semacam
ini ada di banyak tempat dengan istilah dan beraneka cara dalam menyambut
Ramadhan. Bagaimana dengan tempat Bapak, Ibu, dan Saudara? Adakah kesamaan atau
perbedaannya? Mari kita berbagi.
Selamat menunaikan Ibadah Ramadhan 1438 H., semoga kita menjadi insan yang mencapai derajat ketaqwaan kepada Allah SWT.
Tangerang,
16 Juni 2017 bertepatan dengan 16 Ramadhan 1438 H., Ahad Pahing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar