Minggu, 19 November 2017

Sakit pura-pura


SAKIT dan PURA-PURA SAKIT
Sururi Aziz

“Sakit mendadak” seolah-olah menjadi trend belakangan ini, terutama dialami oleh mereka yang sedang berkasus atau berhubungan dengan pihak berwajib. Berurusan dengan hukum memang bikin stress. Saya punya pengalaman pribadi saat menjadi saksi sebuah kasus hukum. Meskipun bukan perkara pidana, pemeriksaan sebagai saksi oleh tim penyidik memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Pertanyaan yang berulang, menanyakan maksud yang sebenarnya sudah jelas, juga terkadang muncul pertanyaan yang tidak berhubungan langsung dengan pokok kasus. Sebagai saksi saja saya cukup stress dan lelah.
Saya membayangkan mereka yang secara psikologis di”terror” oleh gaya tim penyidik mengorek keterangan. Apalagi jika diminta keterangan sebagai tersangka kasus pidana. Berbagai jenis penyakit dadakan bisa jadi segera muncul. Stress adalah awal mulanya.
Sebagai gambaran, saya mencoba merangkum jenis-jenis penyakit yang timbul karena dampak psikologis. Silakan disimak.
1.      MALINGERING
Tak disangkal, mungkin banyak di antara kita sering beralasan malingering atau berpura-pura sakit. Entah itu karena malas bekerja, malas kuliah, atau malas pergi, maka pura-pura sakit biasanya ampuh dijadikan alasan.
Malingering seperti yang ditulis Psikiater Klinik Psikosomatik dr Andri SpKJ FAPM dalam tulisannya berjudul 'Malingering atau Berpura-Pura Sakit', tidak dianggap sebagai gangguan jiwa.
Disebutkan, dalam Buku Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental atau DSM-5 edisi terakhir terbitan American Psychiatric Association menyatakan malingering menerima kode V sebagai salah satu kondisi lain yang mungkin menjadi fokus perhatian klinis.
"Motivasi untuk malingering biasanya bersifat eksternal misalnya menghindari tugas militer atau pekerjaan, mendapatkan kompensasi finansial, menghindari tuntutan pidana, atau mendapatkan obat-obatan terlarang," tulis Andri.
Jadi malingering adalah perilaku yang disengaja untuk tujuan eksternal yang diketahui. Ini tidak dianggap sebagai bentuk gangguan jiwa atau psikopatologi, meski bisa terjadi dalam konteks gangguan jiwa lainnya.
Ada empat hal yang menjadi tanda seseorang melakukan malingering seperti ditulis dalam DSM-5, yaitu :
1.      Masalah medikolegal (misalnya, seorang pengacara merujuk pasien, seorang pasien mencari kompensasi karena cedera)
2.      Perbedaan yang ditandai antara tekanan yang diklaim dan temuan objektif
3.      Kurangnya kerjasama selama evaluasi dan dalam mematuhi perlakuan yang ditentukan
4.      Adanya gangguan kepribadian antisosial

2.      SKIZOFRENIA
Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, pikiran kacau, dan perubahan perilaku. Kondisi yang biasanya berlangsung lama ini sering diartikan sebagai gangguan mental mengingat sulitnya penderita membedakan antara kenyataan dengan pikiran sendiri.
Penyakit skizofrenia bisa diidap siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Kisaran usia 15-35 tahun merupakan usia yang paling rentan terkena kondisi ini. Penyakit skizofrenia diperkirakan diidap oleh satu persen penduduk dunia.
Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) yang dipublikasikan pada tahun 2014, jumlah penderita skizofrenia di Indonesia diperkirakan mencapai 400 ribu orang.
Di Indonesia, akses terhadap pengobatan dan pelayanan kesehatan jiwa masih belum memadai. Akibatnya, sebagian besar penduduk di negara ini, terutama di pelosok-pelosok desa, kerap memperlakukan pasien gangguan jiwa dengan tindakan yang tidak layak seperti pemasungan.
Penyebab skizofrenia
Sebenarnya para ahli belum mengetahui apa yang menjadi penyebab skizofrenia secara pasti. Kondisi ini diduga berisiko terbentuk oleh kombinasi dari faktor psikologis, fisik, genetik, dan lingkungan.
Diagnosis dan pengobatan skizofrenia
Jika Anda memiliki kerabat atau teman-teman yang menunjukkan gejala skizofrenia, segera bawa ke dokter. Makin cepat penyakit ini terdeteksi, semakin baik. Peluang sembuh penderita skizofrenia akan lebih besar jika diobati sedini mungkin.
Karena skizofrenia merupakan salah satu jenis gangguan mental, maka pemeriksaan harus dilakukan oleh dokter spesialis kejiwaan atau psikiater. Penyakit skizofrenia akan terdeteksi pada diri pasien jika:
·         Mengalami halusinasi, delusi, bicara meracau, dan terlihat datar secara emosi.
·         Mengalami penurunan secara signifikan dalam melakukan tugas sehari-hari, termasuk penurunan dalam produktivitas kerja dan prestasi di sekolah akibat gejala-gejala di atas.
·         Gejala-gejala di atas bukan disebabkan oleh kondisi lain, seperti gangguan bipolar atau efek samping penyalahgunaan obat-obatan.
Dalam mengobati skizofrenia, dokter biasanya akan mengombinasikan terapi perilaku kognitif (CBT) dengan obat-obatan antipsikotik. Untuk memperbesar peluang sembuh, pengobatan juga harus ditunjang oleh dukungan dan perhatian dari orang-orang terdekat.
Meskipun sudah sembuh, penderita skizofrenia tetap harus dimonitor. Biasanya dokter akan terus meresepkan obat-obatan untuk mencegah gejala kambuh. Selain itu, penting bagi penderita untuk mengenali tanda-tanda kemunculan episode akut dan bersedia membicarakan kondisinya pada orang lain.
Gejala skizofrenia dibagi menjadi dua kategori, yaitu negatif dan positif. Gejala negatif skizofrenia menggambarkan hilangnya sifat dan kemampuan tertentu yang biasanya ada di dalam diri orang yang normal. Sebagai contoh,
·         Keengganan untuk bersosialisasi dan tidak nyaman berada dekat dengan orang lain sehingga lebih memilih untuk berdiam di rumah.
·         Kehilangan konsentrasi.
·         Pola tidur yang berubah.
·         Kehilangan minat dan motivasi dalam segala aspek hidup, termasuk minat dalam menjalin hubungan
Perubahan pola tidur, sikap tidak responsif terhadap keadaan, dan kecenderungan untuk mengucilkan diri merupakan gejala-gejala awal skizofrenia. Terkadang gejala tersebut sulit dikenali orang lain karena biasanya berkembang di masa remaja sehingga orang lain hanya menganggapnya sebagai fase remaja.
Ketika penderita sedang mengalami gejala negatif, dia akan terlihat apatis dan datar secara emosi (misalnya bicara monoton tanpa intonasi, bicara tanpa ekspresi wajah, dan tidak melakukan kontak mata). Mereka juga menjadi tidak peduli terhadap penampilan dan kebersihan diri, serta makin menarik diri dari pergaulan. Sikap tidak peduli akan penampilan dan apatis tersebut bisa disalahartikan orang lain sebagai sikap malas dan tidak sopan. Hal ini sering kali memicu rusaknya hubungan penderita dengan keluarga ataupun dengan teman-temannya.
Gejala negatif skizofrenia bisa berlangsung beberapa tahun sebelum penderita mengalami episode akut pertama, yaitu ketika gejala menjadi parah dan kadang-kadang diikuti beberapa gejala positif.
Gejala positif skizofrenia terdiri dari:
·         Halusinasi. Terjadi pada saat panca indera seseorang terangsang oleh sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Fenomena halusinasi terasa sangat nyata bagi penderita. Contoh gejala halusinasi yang biasanya dialami oleh penderita skizofrenia adalah mendengar suara-suara.
·         Delusi. Yaitu kepercayaan kuat yang tidak didasari logika atau kenyataan yang sebenarnya. Contoh gejala delusi bisa bermacam-macam. Ada penderita yang merasa diawasi, diikuti, atau khawatir disakiti oleh orang lain. Ada juga yang merasa mendapat pesan rahasia dari tayangan televisi. Gejala-gejala delusi semacam ini bisa berdampak kepada perilaku penderita skizofrenia.
·         Pikiran kacau dan perubahan perilaku. Penderita sulit berkonsentrasi dan pikirannya seperti melayang-layang tidak tentu arah sehingga kata-kata mereka menjadi membingungkan. Penderita juga bisa merasa kehilangan kendali atas pikirannya sendiri. Perilaku penderita skizofrenia juga menjadi tidak terduga dan bahkan di luar normal. Misalnya, mereka menjadi sangat gelisah atau mulai berteriak-teriak dan memaki tanpa alasan.
Penting untuk mengenali gejala-gejala skizofrenia seperti di atas. Jika Anda atau keluarga Anda mengalami gejala-gejala tersebut, segera periksakan ke rumah sakit. Makin dini skizofrenia ditangani, maka peluang sembuh menjadi makin tinggi.

3.      PSIKOSOMATIK
Psikosomatis adalah keluhan fisik yang disebabkan atau diperburuk oleh faktor psikologis (pikiran). Hal ini sesuai dengan kata psikosomatis itu sendiri yang berasal dari kata pyscho yang berarti pikiran dan soma yang berarti tubuh atau fisik. Bahkan ada istilah khusus yang untuk menamai kondisi ini “penyakit pikiran”, karena setiap keluhan muncul ketika seseorang memiliki beban fikiran, stress, dan sebagainya. Kasus pasien-pasien dengan keluhan psikosomatis ini cukup banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, ada orang yang sama sekali tidak dapat menggerakkan kakinya dengan alasan kakinya tidak bertenaga, padahal dari pemeriksaan fisik seluruh tubuh termasuk kakinya dalam keadaan normal dan tidak ada gangguan apapun. 
Pada kasus-kasus lainnya, pasien mengeluhkan berbagai macam keluhan yang tersebar di seluruh tubuhnya, padahal dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang didapatkan hasil yang normal. Itulah psikosomatis, ada keluhan tetapi tidak ada penyakitnya, tidak dapat dijelaskan secara medis. Adanya gangguan psikologis, lama kelamaan dapat juga menimbulkan gangguan pada kesehatan fisik. Apabila ada gangguan psikologis yang menyebabkan pasien tidak mau makan, maka lama kelamaan dapat menimbulkan nyeri ulu hati, dehidrasi, kekurangan nutrisi dan sebagainya. Selain itu faktor psikologis juga dapat memperburuk penyakit fisik seseorang seperti gangguan kulit (psoriasis dan eksema), tekanan darah tinggi, kencing manis dan penyakit jantung. Dari setiap penyakit fisik pasti dipengaruhi oleh faktor psikologis. Akan tetapi bagaimana kita bereaksi atau bersikap terhadap suatu penyakit sangat bervariasi dari satu orang ke orang yang lain. Sebagai contoh jerawat, pada sebagian besar orang bukanlah masalah yang berarti. Namun ada juga orang yang mengalami jerawat sampai merasa depresi. Pada pasien-pasien psikosomatis tersebut, yang dibutuhkan bukan obat untuk mengobati keluhannya,  melainkan obat untuk memperbaiki masalah psikologisnya. Seperti kita ketahui bahwa kondisi fisik pasien tersebut sejatinya dalam keadaan sehat.

Disarikan dari berbagai sumber
Jakarta, 20 November 2017


Tidak ada komentar:

Posting Komentar