Selasa, 19 April 2022


Al-Qur’an dan Lailatul Qadar

Oleh : ASA

 

Beberapa ulama tafsir mengatakan surat Al Qadr menerangkan tentang peristiwa pada malam kemuliaan. Ibnu Katsir menerangkan, dalam surat ini Allah SWT menceritakan bahwa Dia menurunkan Al Quran di malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh dengan keberkahan. Menurut tafsir Kemenag, dalam ayat 2 Surat Al Qadr Allah SWT menjelaskan tentang keutamaan Lailatul Qadar yang tidak diketahui para ulama maupun ilmuan. Bahkan Nabi pun tidak sanggup menentukan kebesaran dan keutamaan malam itu. Hanya Allah SW yang mengetahui segala yang tidak diketahui oleh hamba-Nya.

Dalam ayat 3, Allah SWT menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar adalah malam yang memancarkan cahaya hidayah yang diturunkan untuk kebahagiaan manusia. Malam ini lebih utama dari seribu bulan. Menjalankan ibadah pada malam ini memiliki keutamaan diantaranya mendapatkan kemuliaan dan ganjaran yang lebih baik. Ayat selanjutnya Allah SWT menjelaskan keistimewaan yang terdapat dalam malam ini. Di mana para malaikat bersama Jibril akan turun dari alam malaikat untuk menyampaikan wahyu dari Allah SWT. Turunnya malaikat ke bumi atas izin Allah dan sudah menjadi rahasia-Nya.

Diriwayatkan dalam HR Abu Dawud, Ibnu 'Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda tentang Lailatul Qadr: Lailatul Qadr adalah malam yang tenang dan cerah, tidak panas dan tidak dingin, serta matahari pada pagi harinya berwarna merah terang." (HR. Abu Dawud). Karena Lailatul Qadar memiliki keistimewaan yakni pahala melimpah, dosa diampuni, doa dikabulkan, hadir ketenteraman, dan lahir kemuliaan, penting bagi umat Islam memburu malam Lailatul Qadr. Malam keberkahan ini juga disebutkan dalam Q.S Ad-Dukhan ayat 3 sebagai berikut, Artinya: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan." Malam Lailatul Qadar terdapat di bulan keberkahan, yakni bulan Ramadhan. Hal ini juga diperkuat dengan firman-Nya pada penggalan Q.S Al-Baqarah ayat 185, artinya:" (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran...."


Metode turunnya Al Qur’an

Redaksi turunnya Al Quran diungkapkan dengan narasi dua diksi:

1.    Anzala : Dalam rumus bahasa Arab secara cepat, anzala menunjukkan peristiwa yang sekaligus, keseluruhan.

2.    Nazzala : Menunjuk proses yang bertahap.

Para ulama sepakat, Al Quran yang diturunkan secara berproses itu, itulah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Sejak mulai periode Iqra berlangsung di Gua Hira itu, pada hari Senin tanggal 21 Ramadhan, diawali dengan usia beliau 40 tahun, 6 bulan, 12 hari dalam hitungan hijriah. Dalam perhitungan kalender masehi, usia Nabi 39 tahun 3 bulan, 20 hari. Jadi kalau ada referensi sejarah menyebutkan Beliau menerima wahyu dalam usia 40 tahun, ini merujuk pada kalender hijriah.

Dalam hadits HR Muslim, 2263, Nabi SAW melalui pendahuluan dalam proses penerimaan wahyu pertama melalui mimpi yang benar dan dibimbing oleh Allah SWT. Bahkan itu berupa dari tanda kenabian. Mimpi yang benar itu, bagi para nabi merupakan 46 tanda kenabian. QS Ali Imran ayat 3 menyebutkan, Allah turunkan Al Quran kepada Nabi Muhammad secara berproses, bertahap, dengan cara yang benar. QS Al Furqan ayat 32 disebutkan, hal demikian supaya kami memantabkan ayat yang diturunkan itu, menghujam pada jiwamu.
Narasi kedua, yakni nazzala, dalam surat Al Baqarah ayat 185 dan QS Al Anfal ayat 41, Al Quran diturunkan sekaligus dari Lauful Mahfudz ke Baitul Izzah tanggal 17 bulan Ramadhan di hari Jumat. Sebelum diturunkan kepada Nabi Muhammad disampaikan dulu kepada seluruh penghuni langit sekaligus menunjukkan status tingginya Rasulullah SAW.

Alquran turun dengan ayat yang lengkap semuanya ketika malam Lailatul-Qadr ke bait-al-Izzah atau langit dunia dari al-Lauh al-Mahfudz. Kemudian turun secara berangsur-angsur melalui Jibril kepada Nabi Muhammad SAW selama 20 atau 23 tahun kemudian dimulai dengan 5 ayat pertama al-‘Alaq.

Bahwa Alquran diturunkan sekaligus ke langit dunia (daarul Izzah) pada malam Lailatul Qadr kemudian diturunkan dengan cara berangsur-angsur sepanjang kehidupan Nabi SAW setelah beliau diangkat menjadi Nabi di Mekah dan Madinah sampai wafat beliau.

Pendapat ini karena berdasar kepada suatu riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Hakim dalam mustadrok-nya dengan sanad yang shohih, dari Ibnu Abbas radhiyallhu ‘anhuma. Beliau mengatakan bahwasanya Alquran itu turun sekaligus ke langit dunia pada malam lailatul qodr. Kemudian diturunkan berangsur-angsur selama 20 tahun, kemudia ia mambaca surah Al-Furqan ayat 33. "Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik."

Dalam surah Al-Isra ayat 106 Allah SWT berfirman. "Dan Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian."

Imam An-Nasa’I juga meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:“……dan Al-qur’an diletakkan di baitil izzah dari langit dunia kemudian Jibril turun dengan membawanya kepada Muhammad SAW"

Lalu apakah turunnya Lailatul Qadar tanggal 17 Ramadhan? Jawabannya kita harus merujuk pada penafsir terbaik antara lain pada hadits.

a.   HR Muslim nomor 169 menyebut, dari Sayyidah Aisyah Radiyallahu Ta'ala Anha: 'Berburulah kalian, malam Al Qadar itu di 10 hari terakhir."

b.   HR Bukhari nomor 2017 dari Sayyidah Aisyah: cari di malam-malam ganjil 21,23, 25, 27, dan 29.

c.   HR Muslim nomor 1165: cari di tujuh yang terakhir yang ganjil: malam 29.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar