Al-Qur’an dan Lailatul Qadar
Oleh : ASA
Beberapa
ulama tafsir mengatakan surat Al Qadr menerangkan tentang peristiwa pada malam
kemuliaan. Ibnu Katsir menerangkan, dalam surat ini Allah SWT menceritakan
bahwa Dia menurunkan Al Quran di malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh
dengan keberkahan. Menurut tafsir Kemenag, dalam ayat 2 Surat Al Qadr
Allah SWT menjelaskan tentang keutamaan Lailatul Qadar yang tidak diketahui
para ulama maupun ilmuan. Bahkan Nabi pun tidak sanggup menentukan kebesaran
dan keutamaan malam itu. Hanya Allah SW yang mengetahui segala yang tidak
diketahui oleh hamba-Nya.
Dalam ayat
3, Allah SWT menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar adalah malam yang
memancarkan cahaya hidayah yang diturunkan untuk kebahagiaan manusia. Malam ini
lebih utama dari seribu bulan. Menjalankan ibadah pada malam ini memiliki
keutamaan diantaranya mendapatkan kemuliaan dan ganjaran yang lebih baik.
Ayat selanjutnya Allah SWT menjelaskan keistimewaan yang terdapat dalam malam
ini. Di mana para malaikat bersama Jibril akan turun dari alam malaikat untuk
menyampaikan wahyu dari Allah SWT. Turunnya malaikat ke bumi atas izin Allah
dan sudah menjadi rahasia-Nya.
Diriwayatkan
dalam HR Abu Dawud, Ibnu 'Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda
tentang Lailatul Qadr: Lailatul Qadr adalah malam yang tenang dan cerah, tidak
panas dan tidak dingin, serta matahari pada pagi harinya berwarna merah
terang." (HR. Abu Dawud). Karena Lailatul Qadar memiliki keistimewaan yakni pahala melimpah, dosa
diampuni, doa dikabulkan, hadir ketenteraman, dan lahir kemuliaan, penting bagi
umat Islam memburu malam Lailatul Qadr. Malam
keberkahan ini juga disebutkan dalam Q.S Ad-Dukhan ayat 3 sebagai berikut,
Artinya: "Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu
malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan."
Malam Lailatul Qadar terdapat di bulan keberkahan, yakni bulan Ramadhan. Hal
ini juga diperkuat dengan firman-Nya pada penggalan Q.S Al-Baqarah ayat 185,
artinya:" (Beberapa hari yang
ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al Quran...."
Metode turunnya Al Qur’an
Redaksi
turunnya Al Quran diungkapkan dengan narasi dua diksi:
1.
Anzala : Dalam
rumus bahasa Arab secara cepat, anzala menunjukkan peristiwa yang sekaligus,
keseluruhan.
2.
Nazzala : Menunjuk
proses yang bertahap.
Para ulama
sepakat, Al Quran yang diturunkan secara berproses itu, itulah yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad. Sejak mulai periode Iqra berlangsung di Gua Hira itu,
pada hari Senin tanggal 21 Ramadhan, diawali dengan usia beliau 40 tahun, 6
bulan, 12 hari dalam hitungan hijriah. Dalam perhitungan kalender
masehi, usia Nabi 39 tahun 3 bulan, 20 hari. Jadi kalau ada referensi sejarah
menyebutkan Beliau menerima wahyu dalam usia 40 tahun, ini merujuk pada
kalender hijriah.
Dalam
hadits HR Muslim, 2263, Nabi SAW melalui pendahuluan dalam proses penerimaan
wahyu pertama melalui mimpi yang benar dan dibimbing oleh Allah SWT. Bahkan itu
berupa dari tanda kenabian. Mimpi yang benar itu, bagi para nabi merupakan 46
tanda kenabian. QS Ali Imran ayat 3 menyebutkan, Allah turunkan Al Quran
kepada Nabi Muhammad secara berproses, bertahap, dengan cara yang benar. QS Al
Furqan ayat 32 disebutkan, hal demikian supaya kami memantabkan ayat yang
diturunkan itu, menghujam pada jiwamu.
Narasi kedua, yakni nazzala, dalam surat Al Baqarah ayat 185 dan QS Al Anfal ayat 41,
Al Quran diturunkan sekaligus dari Lauful Mahfudz ke Baitul Izzah tanggal 17
bulan Ramadhan di hari Jumat. Sebelum diturunkan kepada Nabi Muhammad
disampaikan dulu kepada seluruh penghuni langit sekaligus menunjukkan status
tingginya Rasulullah SAW.
Alquran
turun dengan ayat yang lengkap semuanya ketika malam Lailatul-Qadr ke
bait-al-Izzah atau langit dunia dari al-Lauh al-Mahfudz. Kemudian turun secara
berangsur-angsur melalui Jibril kepada Nabi Muhammad SAW selama 20 atau 23
tahun kemudian dimulai dengan 5 ayat pertama al-‘Alaq.
Bahwa
Alquran diturunkan sekaligus ke langit dunia (daarul Izzah) pada malam Lailatul
Qadr kemudian diturunkan dengan cara berangsur-angsur sepanjang kehidupan Nabi
SAW setelah beliau diangkat menjadi Nabi di Mekah dan Madinah sampai wafat
beliau.
Pendapat
ini karena berdasar kepada suatu riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Hakim dalam
mustadrok-nya dengan sanad yang shohih, dari Ibnu Abbas radhiyallhu ‘anhuma. Beliau
mengatakan bahwasanya Alquran itu turun sekaligus ke langit dunia pada malam
lailatul qodr. Kemudian diturunkan berangsur-angsur selama 20 tahun, kemudia ia
mambaca surah Al-Furqan ayat 33. "Tidaklah
orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan
kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik."
Dalam
surah Al-Isra ayat 106 Allah SWT berfirman. "Dan
Al Quran itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu
membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi
bagian."
Imam
An-Nasa’I juga meriwayatkan dengan sanad yang shohih dari Ibnu Abbas
radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata:“……dan Al-qur’an diletakkan di baitil
izzah dari langit dunia kemudian Jibril turun dengan membawanya kepada Muhammad
SAW"
Lalu apakah
turunnya Lailatul Qadar tanggal 17 Ramadhan? Jawabannya kita harus merujuk pada
penafsir terbaik antara lain pada hadits.
a.
HR
Muslim nomor 169 menyebut, dari Sayyidah Aisyah Radiyallahu Ta'ala Anha:
'Berburulah kalian, malam Al Qadar itu di 10 hari terakhir."
b. HR Bukhari nomor 2017 dari Sayyidah Aisyah: cari di malam-malam
ganjil 21,23, 25, 27, dan 29.
c.
HR
Muslim nomor 1165: cari di tujuh yang terakhir yang ganjil: malam 29.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar