Selasa, 19 April 2022

 


Obrolan Warung Kopi-2

oleh : ASA

Dalam beberapa pekan ini banyak beredar dokumen terkait dengan konsep merdeka belajar, terutama yang disebut dengan kurikulum Prototype.  Sebetulnya saya malas membahas hal yang menurut saya terlalu jauh dari kemampuan saya. Tetapi kok banyak yang tanya pendapat saya terkait hal itu. Maka saya coba kasih analogi sedikit saja.

Ibarat masakan, Kurikulum itu seperti bahan baku yang siap diolah bagi para juru masak. Maka pemilihan bahan baku menjadi penting ditahap awal. Dan itu menjadi tugasnya para chef.  Setelah bahan baku, keterampilan para juru masak menjadi sangat penting untuk menjadikannya masakan yang diinginkan sesuai dengan menu yang ditawarkan. Sebagus apapun bahan baku masakan kalau sang juru masak tidak memiliki keterampilan memahami karakter bahan baku, cara mengolah menjadi masakan, dan menyajikannya, maka tidak ada artinya bahan baku bagus pilihan para chef  tadi. Bukan menjadi makanan yang lezat, bisa jadi melihatnya pun sudah bikin enek.

Begitupun dengan kurikulum, apapun penamaannya. Sebagus apapun dokumen kurikulum yang dibuat oleh para ahli, kalau para guru selaku juru masak tidak memiliki keterampilan memahami karakteristik bahan baku (maksudnya mata pelajaran), cara menyampaikan, dan melakukan asesmen, maka kurikulum tersebut hanya akan menjadi onggokan dokumen yang hanya dibutuhkan saat hendak akreditasi. Upaya mengubah kurikulum akan menjadi sia-sia kalau tidak disertai membekali para guru dengan keterampilan memahami kurikulum.

Lho, itulah sebabnya dokumen kurikulum diedarkan seluas-luasnya supaya guru bisa paham lebih dulu, demikian kata kawan saya. Tetapi menurut saya tidak begitu. Belajar dari dokumen saja tanpa penjelasan dari si penyusun, maka potensi salah tafsirnya akan sangat besar. Ingat, belajar tanpa guru itu akan menjadikan syetan sebagai gurunya. Dan itulah yang terjadi selama ini. Sebagian besar guru mengajar tanpa memahami kurikulum yang sebenarnya. Guru mengajar berdasarkan penafsiran dia dan pengalaman selama dia menjadi siswa dan mahasiswa. Karena bagi mereka, apapun perubahan kurikulum yang dibuat, “saya tetap mengajar dengan cara saya.”

Ngga percaya??? Memang sebaiknya tidak dipercaya.

 

Tangerang, 10 Pebruari 2022.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar