Obrolan Warung Kopi-2
oleh : ASA
Dalam beberapa pekan ini banyak beredar
dokumen terkait dengan konsep merdeka belajar, terutama yang disebut dengan
kurikulum Prototype. Sebetulnya saya
malas membahas hal yang menurut saya terlalu jauh dari kemampuan saya. Tetapi
kok banyak yang tanya pendapat saya terkait hal itu. Maka saya coba kasih
analogi sedikit saja.
Ibarat masakan, Kurikulum itu seperti
bahan baku yang siap diolah bagi para juru masak. Maka pemilihan bahan baku
menjadi penting ditahap awal. Dan itu menjadi tugasnya para chef. Setelah bahan baku, keterampilan para juru
masak menjadi sangat penting untuk menjadikannya masakan yang diinginkan sesuai
dengan menu yang ditawarkan. Sebagus apapun bahan baku masakan kalau sang juru
masak tidak memiliki keterampilan memahami karakter bahan baku, cara mengolah
menjadi masakan, dan menyajikannya, maka tidak ada artinya bahan baku bagus
pilihan para chef tadi. Bukan menjadi
makanan yang lezat, bisa jadi melihatnya pun sudah bikin enek.
Begitupun dengan kurikulum, apapun
penamaannya. Sebagus apapun dokumen kurikulum yang dibuat oleh para ahli, kalau
para guru selaku juru masak tidak memiliki keterampilan memahami karakteristik
bahan baku (maksudnya mata pelajaran), cara menyampaikan, dan melakukan asesmen,
maka kurikulum tersebut hanya akan menjadi onggokan dokumen yang hanya
dibutuhkan saat hendak akreditasi. Upaya mengubah kurikulum akan menjadi
sia-sia kalau tidak disertai membekali para guru dengan keterampilan memahami
kurikulum.
Lho, itulah sebabnya dokumen kurikulum
diedarkan seluas-luasnya supaya guru bisa paham lebih dulu, demikian kata kawan
saya. Tetapi menurut saya tidak begitu. Belajar dari dokumen saja tanpa
penjelasan dari si penyusun, maka potensi salah tafsirnya akan sangat besar. Ingat,
belajar tanpa guru itu akan menjadikan syetan sebagai gurunya. Dan itulah yang
terjadi selama ini. Sebagian besar guru mengajar tanpa memahami kurikulum yang
sebenarnya. Guru mengajar berdasarkan penafsiran dia dan pengalaman selama dia
menjadi siswa dan mahasiswa. Karena bagi mereka, apapun perubahan kurikulum
yang dibuat, “saya tetap mengajar dengan cara saya.”
Ngga percaya??? Memang sebaiknya tidak
dipercaya.
Tangerang, 10 Pebruari 2022.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar