Gerakan
Literasi Sejarah dan Budaya
Sururi
Aziz
Saat ini Gerakan Literasi Sekolahdikembangkan berdasarkan
Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.Tujuan gerakan
ini untuk membiasakan dan memotivasisiswa
agar mau membaca dan menulis guna menumbuhkan budi pekerti.Sebagai layaknya
sebuah gerakan, permendikbud ini mengajak seluruh komponen pendidikan untuk
melaksanakan dan berpartisipasi dalam mewujudkannya.Saat ini hampir sebagian
besar sekolah sudah mendeklarasikan diri menjadi Sekolah Literasi.Bahkan hingga
ke jenjang pemerintahan daerah kabupaten/kota maupun provinsi tak ketinggalan
ikut mempelopori gerakan ini.Gerakan yang menuntut
transformasi sosial ini tidak bergerak dengan cara mengkonsolidasi
elit-cendekiawan semata, melainkan berbasis pada “siapa-saja”. Siapa saja bisa
menjadi penggerak literasi.Artinya pencapaian transformatif hanya terjadi jika
masing-masing orang memulai peran-perannya dalam lingkup paling kecil. Tidak
ada cara lain. Begitu juga dengan gerakan literasi.
Efektifkah
gerakan ini?Tentu kita belum bisa menilai seberapa jauh efektivitas gerakan
literasi di sekolah maupun di masyarakat.Penilaian terhadap efektivitas gerakan
ini tergantung dari pemahaman kita terhadap definisi Literasi itu sendiri.Secara sederhana, literasi dapat diartikan sebagai
sebuah kemampuan membaca dan menulis.Kita mengenalnya dengan melek aksara atau
keberaksaraan.Namun sekarang ini literasi memiliki arti luas, sehingga
keberaksaraan bukan lagi bermakna tunggal melainkan mengandung beragam arti (multi
literacies). Ada bermacam-macam keberaksaraan atau literasi , misalnya
literasi komputer (computer literacy), literasi media (media literacy),
literasi teknologi (technology literacy), literasi ekonomi (economy
literacy), literasi informasi (information literacy), bahkan ada
literasi moral (moral literacy). Seorang dikatakan literat jika ia sudah
bisa memahami sesuatu karena membaca informasi yang tepat dan melakukan sesuatu
berdasarkan pemahamannya terhadap isi bacaan tersebut.Dengan mengacu pada pemahaman ini maka gerakan literasi sudah dianggap
berhasil jika sudah banyak orang yang mau membaca berbagai jenis bahan bacaan
dan karya-karya dalam bentuk tulisan semakin banyak dan membudaya.Budaya literasi dimaksudkan untuk
melakukan kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis
yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut
akan menciptakan karya.
Proses
pemahaman terhadap literasi sendiri tidaklah seragam, karena literasi memiliki
tingkatan-tingkatan yang menanjak. Jika seseorang sudah menguasai satu tahapan
literasi maka ia memiliki
pijakan
untuk naik ke tingkatan literasi berikutnya. Pada tahapan awal, kita
mendapatkan orang dengan pemahaman literasi yang Nampak atau performative.Orang yang tingkat
literasinya beradapada tingkat ini mampu membaca dan menulis, serta berbicara
dengan simbol-simbol yang digunakan (bahasa).Tahapan berikutnya adalah tingkat functional, dimanaorang diharapkandapat
menggunakan bahasa untuk memenuhi kehidupan sehari-hari seperti membaca buku
manual.Lebih tinggi dari functional adalah
informational.Pada tingkat informational orang diharapkan dapat
mengakses pengetahuan dengan bahasa.Penekanan pada tahap ini adalah kemampuannya
memanfaatkan hasil berliterasi untuk mendapatkan informasi yang lebih
jauh.Sementara pada tahapan tertinggi adalah tingkat epistemic dimanaorang dapat mentransformasikan
pengetahuan dalam bahasa.Dengan demikian tingkatan literasi dimulai dari tingkatan
paling bawahyaitu performative, functional, informational, dan epistemic.
Untuk memahami literasi, jenis-jenis literasi yang
ada saat ini antara lain :
1.
Literasi
Klasik yang menggambarkan bagaimana proses penguasaan terhadap kemampuan
membaca, menulis, dan memahami. Jenis ini bahkan menjadi menu utama dalam
pendidikan tingkat dasar di Negara kita.
2.
Literasi
Audiovisual, jenis literasi ini menghubungkannya dengan penggunaan media
elektronik dan berfokus pada gambar dan atau serangkaian gambar seperti film.
3.
Literasi
Digital, ini merupakan konsep terbaru dan sering digunakan untuk mengacu pada
keterampilan teknik yang diperlukan untuk peralatan digital modern
Literasi Sejarah dan Budaya
Sejarah kehidupan manusia secara umum
terbagi kedalam dua periode utama, yaitu masa prasejarah dan masa sejarah. Masa
Prasejarah secara harfiah
berarti "sebelum sejarah", dari bahasa Latin. Prasejarah manusia
adalah masa di mana perilaku dan anatomi manusia pertama kali muncul, sampai
adanya catatan sejarah yang
kemudian diikuti dengan penemuan aksara.Prasejarah mengacu pada suatu periode di mana
keberadaan manusia masih belum dicatat dalam catatan sejarah.
Literasi sejarah terkait dengan kemampuan
mengetahui dan memahami peristiwa sejarah.Sebab pemahaman tentang adanya
perubahan dan kontinuitas dari waktu ke waktu harus dapat menjadikan kita menjadi manusia yang mampu
bersikap secara terbuka. Seseorang yang memiliki kemampuan literasi sejarah
setidaknya memerlukan kemampuan yang kompleks.Begitupun dengan literasi budaya,
yang menuntut seseorang memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang bagaimana
suatu Negara, agama, kelompok etnis atau suku, keyakinan, symbol perayaan,
pelestarian dan pengarsipan data.Seseorang yang memiliki kemampuan literasi
budaya harus menyadari bahwa factor budaya bisa berdampak positif maupun
negative.Jadi, literasi sejarah dan budaya memerlukan pelibatan interpretasi,
kolaborasi, pengetahuan kultural, pemecahan masalah, refleksi, dan penggunaan
bahasa. Penjelasannya adalah sebagai berikut :
1.
Literasi Sejarah melibatkan interpretasi, maksudnya
adalah bahwa apa yang kita dapatkan dari bahan bacaan ataupun informasi
mengenai sesuatu hal memerlukan interpretasi. Misalkan tentang peristiwa
hadirnya era reformasi. Masing-masing kita bisa saja memiliki pemahaman yang
berbeda dengan para penulis atau penutur mengenai sebab musababnya, peran para
tokohnya, arah dan tujuan perjuangan para tokohnya, dan lain-lain.
2.
Kemampuan literasi sejarah membutuhkan kolaborasi. Dalam
kaitannya memahami suatu peristiwa, diperlukan kemampuan berinteraksi dengan
bukti-bukti sebagai sumber utama yang akurat dan berkolaborasi dengan para ahli
dibidangnya untuk menentukan akurasi sumber datanya.
3.
Literasi melibatkan kemampuan berbahasa, bukan hanya
membaca dan menulis melainkan juga berargumen terhadap fakta-fakta yang
tersedia.
Literasi Sejarah dan Budaya di Sekolah
Menurut
UNESCO, setidaknya para siswa memerlukan keterampilan-keterampilan yang
dibutuhkan untuk bisa mengahadapi abad ke-21 ini. Keterampilan tersebut terbagi
kedalam tiga kelompok yaitu :
1.
Keterampilan
Dasar, adalah bagaimana para siswa kita mampu menerapkan keterampilan inti
dalam tugas sehari-hari.
2.
Kompetensi-kompetensi
yang dapat digunakan untuk menghadapi tantangan hidup yang komplek
3.
Kualitas
Karakter yang dapat digunakan sebagai pendekatan untuk dapat melakukan
perubahan-perubahan pada lingkungannya
Menariknya, diantara keterampilan
dasar yang diperlukan para siswa tersebut adalah keterampilan literasi sejarah
dan budaya ( historical andcultural
literacy ). Literasi
sejarah dan budaya yang berarti kemampuan pengetahuan,dan pemahaman terhadap
budaya, tentang bagaimana suatu negara, agama, sebuahkelompok etnis atau suatu
suku, keyakinan, simbol, perayaan, dan carakomunikasi tradisional, penciptaan,
penyimpanan, penanganan,komunikasi, pelestarian dan pengarsipan data, informasi
danpengetahuan, menggunakan teknologi. Sebuah elemen penting daripemahaman
literasi sejarah dan budaya adalah kesadaran tentang bagaimanafaktor sejarah
dan budaya berdampak secara positif maupun negatif dalam kehidupan dan pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi.
Bagaimana para siswa kita memahami
literasi sejarah dan budaya?Dalam struktur pembelajaran di sekolah kita
mengenal matapelajaran sejarah.Sayangnya pelajaran sejarah di sekolah lebih
sering membosankan, karena hanya berisi ceramah dan cerita-cerita.Pendekatan
pembelajaran yang demikian harus diubah, menggunakan prinsip-prinsip pendidikan
literasi.Kegiatan pembelajaran sejarah memerlukan media untuk mengembangkan
rasa kepedulian dan ketertarikan ranah kedaerahan untuk menggali lebih dalam
tentang masa lalu daerahnya.Media tersebut salah satunya adalah situs sejarah.
Pemanfaatan
situs sejarah sebagai obyek pembelajaran akan meningkatkan pemahaman karena
berinteraksi secara langsung dengan obyeknya. Lingkungan dimana kita tinggal,
sesungguhnya banyak menyimpan sejarah terutama yang terkait kedaerahannya.
Situs yang bisa menjadi obyeknya antara lain masjid, makam, candi, kitab suci,
cerita para tokoh sepuh, dan benda-benda serta informasi penting lainnya. Jika
kita memanfaatkan lingkungan sekitar, maka siswa tidak lagi disuguhi
hafalanserangkaian materi melainkan lebih pada membelajarkan bagaimana mereka
dapat beradaptasi terus menerus terhadap kehidupan yang selalu berubah sehingga
kemampuan literasi sejarah dan budaya para siswa pun dapat berkembang.
Literasi Budaya dan
Pelestarian Cagar Budaya
Penguasaan literasi dalam segala aspek kehidupan
memang menjadi tulang punggung kemajuan peradaban suatu bangsa.Tidak mungkin
menjadi bangsa yang besar, apabila hanya mengandalkan budaya oral yang mewarnai
kehidupan masyarakat dan pembelajaran di lembaga sekolah maupun perguruan
tinggi. Karena itulah sudah saatnya, budaya literasi harus lebih ditanamkan
sejak usia dini agar anak bisa mengenal bahan bacaan dan menguasai dunia
tulis-menulis.Literasi adalah kecakapan hidup yang memungkinkan manusia
berfungsi maksimal sebagai anggota masyarakat, salah satunya adalah refleksi
penguasaan dan apresiasi budaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar