
Apakah Saya Ustadz ?
Oleh :
Sururi Aziz
Saya, adalah guru. Profesi yang saya tekuni sejak 1992 ini sangat membanggakan dalam hidup saya. Dalam perkembangannya saat ini, saya nyambi mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta, juga menjadi Trainer dan Freelance education consultant. Pengalaman menjadi ketua DKM selama dua periode membuat saya banyak belajar ilmu agama. Jadi, kalau diminta ceramah yang bersinggungan dengan agama ditingkat kampung, sedikit saja sih bisa. Nah, yang membuat saya risih belakangan ini adalah panggilan atau sebutan “ustadz” kepada saya. Kata orang sih, ustadz itu ya guru. Jadi wajar kalau saya dipanggil dengan sebutan ustadz karena saya guru. Benarkah demikian ?
Dalam
konteks pendidikan Islam, guru atau “pendidik” sering disebut dengan murabbi,
mu’allim, mu’addib, mudarris, dan mursyid. Menurut
peristilahan yang dipakai dalam pendidikan dalam konteks Islam, kelima
istilah ini mempunyai tempat tersendiri dan mempunyai tugas masing-masing.
Dalam tulisan ini kita akan jelaskan posisi ustadz yang
sebenarnya (insya Allah), agar Anda semua tidak salah paham.
1) Secara umum, ustadz itu diartikan sebagai GURU atau
pendidik. Ini adalah pengertian dasarnya.
2) Guru dalam
khazanah Arab atau Islam, memiliki banyak istilah yang berbeda-beda, yaitu: Mudarris,
Mu’allim, Muaddib, Musyrif, Murabbi, Mursyid,
dan termasuk Ustadz. Masing-masing istilah memiliki makna tersendiri.
3) Mudarris artinya guru, tetapi lebih spesifik: Orang yang
menyampaikan dirasah atau pelajaran. Siapa saja yang menyampaikan pelajaran di
hadapan murid-murid, dia adalah Mudarris.
4) Mu’allim artinya guru juga, tetapi lebih spesifik: Orang
yang berusaha menjadikan murid-muridnya tahu, setelah sebelumnya mereka belum
tahu. Tugas Mu’allim itu melakukan transformasi pengetahuan, sehingga muridnya
menjadi tahu.
5) Muaddib atau Musyrif, artinya juga guru, tetapi lebih
spesifik: Orang yang mengajarkan adab (etika dan moral), sehingga
murid-muridnya menjadi lebih beradab atau mulia (syarif). Penekanannya lebih
pada pendidikan akhlak, atau pendidikan karakter mulia.
6) Murabbi artinya sama, yaitu guru, tetapi lebih spesifik:
Orang yang mendidik manusia sedemikian rupa, dengan ilmu dan akhlak, agar
menjadi lebih berilmu, lebih berakhlak, dan lebih berdaya. Orientasinya
memperbaiki kualitas kepribadian murid-muridnya, melalui proses
belajar-mengajar secara intens. Murabbi itu bisa diumpamakan seperti petani
yang menanam benih, memelihara tanaman baik-baik, sampai memetik hasilnya.
7) Mursyid artinya juga guru, tetapi skalanya lebih luas
dari Murabbi. Kalau Murabbi cenderung privasi, terbatas jumlah muridnya, maka
Musyrid lebih luas dari itu. Mursyid dalam terminologi shufi bisa memiliki
sangat banyak murid-murid.
8) Baru kita masuk pengertian Ustadz. Secara dasar, ustadz
memang artinya guru. Tetapi guru yang istimewa. Ia adalah seorang Mudarris,
karena mengajarkan pelajaran. Ia seorang Mu’addib, karena juga mendidik manusia
agar lebih beradab (berakhlak). Dia seorang Mu’allim, karena bertanggung-jawab
melalukan transformasi ilmiah (menjadikan murid-muridnya tahu, setelah
sebelumnya tidak tahu). Dan dia sekaligus seorang Murabbi, yaitu pendidik yang
komplit. Jadi, seorang ustadz itu memiliki kapasitas ilmu, akhlak, terlibat
dalam proses pembinaan, serta keteladanan.
9) Dalam istilah Arab modern, kalau Anda menemukan ada
istilah “Al Ustadz Ad Duktur” di depan nama seseorang, itu sama dengan
“Profesor Doktor”. Jadi Al Ustadz itu sebenarnya padanan untuk Profesor.
Kalau tidak percaya, coba tanyakan kepada para ahli-ahli Islam yang pernah
kuliah di Timur Tengah, apa pengertian “Al Ustadz Ad Duktur”?
10)Sejujurnya, istilah Ustadz itu dalam tataran ilmu, berada
satu tingkat di bawah istilah Ulama atau Syaikh. Kalau seseorang disebut
Ustadz, dia itu sebenarnya ulama atau mendekati derajat ulama. Contoh, seperti
sebutan Ustadz Muhammad Abdul Baqi’, Ustadz Said Hawa, Ustadz Hasan Al Hudaibi,
Ustadz Muhammad Assad, dan lain-lain.
Nah, hal seperti ini perlu dijelaskan, agar kita tahu dan
memaklumi. Istilah Ustadz itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Di
dalamnya terkandung makna ilmu, pengajaran, akhlak, dan keteladanan. Kalau
kemudian di Indonesia, istilah Ustadz sangat murah meriah, atau diobral gratis…
Ya itu karena kita saja yang tidak tahu.
Tangerang, 4
Syawal 1438 H. bertepatan 28 Juni 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar