
MENGAPA KITA HARUS BERPUASA ?
Sururi Aziz*
“Hai orang-orang yang
beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang
sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183).
Dari ayat ini kita melihat dengan jelas adanya kaitan antara puasa dengan keimanan seseorang. Allah Ta’ala memerintahkan puasa kepada orang-orang yang memiliki iman, dengan demikian Allah Ta’ala pun hanya menerima puasa dari jiwa-jiwa yang terdapat iman di dalamnya. Dan puasa juga merupakan tanda kesempurnaan keimanan seseorang. Imam Ath-Thabari menyatakan bahwa maksud ayat ini adalah : “Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, membenarkan keduanya dan mengikrarkan keimanan kepada keduanya”
Puasa,
yang dalam bahasa Arab disebut shaum atau shiyam, berarti menahan diri (al-imsak). Yaitu menahan diri dari makan, minum,
berhubungan sex dan hal-hal yang membatalkannya sepanjang hari dari sejak
terbit fajar sampai terbenam matahari dengan disertai niat. Puasa Ramadhan
adalah salah satu syariah Islam. Syariah atau syariat berarti jalan. Semakna
dengan kata syariah yaitu sirat, sabil, minhaj, tariq, yang
kesemuanya berarti jalan. Secara sederhana dapat dipahami bahwa yang namanya
jalan adalah suatu yang dilalui untuk mencapai satu titik tujuan.
Karena
puasa adalah jalan, maka agar tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan dalam
melaksanakannya atau sekadar mengugurkan kewajiban secara fiqih, sehingga
terabaikan pesan dan tujuan yang harus dicapai di balik puasa yang kita
lakukan, adalah penting memahami pesan tersembunyi/tersirat (cryptical message) yang notabene merupakan pesan moral
dari puasa Ramadhan yang kita lakukan selama ini. Dengan kata lain, kenapa kita
harus berpuasa?
Perintah
wajib melaksanakan ibadah puasa Ramadhan itu difirmankan oleh Allah dalam
Alquran Surat Al-Baqarah ayat 183, "Wahai orang-orang yang beriman
diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu agar kamu bertakwa ". Logikanya bahwa orang-orang yang tidak beriman
tentu tidak diwajibkan untuk berpuasa Ramadhan. Tolok ukur berpuasa adalah
keimanan, dan tujuannya adalah ketakwaan.
Ketakwaan
itu sendiri merupakan refleksi dari keimanan seseorang terhadap yang ghaib,
menegakkan shalat, berbagi dengan sebagian harta yang dimiliknya -- karunia Allah
Subhanahuwata’ala kepada sesama, beriman kepada ajaran yang telah Allah
Subhanahuwata’ala turunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu’alaihiwassalaam dan
para nabi sebelumnya, dan yakin akan hari akhirat. (Q.S. Al-Baqarah : 1 - 2).
Ketakwaan
juga merupakan manifestasi dari kesediaan seseorang untuk berbagi dengan harta
yang dimilikinya kepada sesama, baik dalam keadaan lapang maupun sempit,
kemampuan untuk menahan amarah, kesediaan memaafkan (kesalahan) orang lain,
selalu berbuat kebajikan dan selalu mengingat Allah Subhanahuwata’ala serta
memohon ampunan-Nya atas perbuatan dosa, keji atau aniaya terhadap diri
sendiri. (Q.S. Ali Imran :145 -135).
Ketakwaan,
yang ketika Nabi Shalallahu’alaihiwassalaam ditanya oleh para sahabat, yaitu
tolok ukurnya di sini (hati) -- Nabi bersabda sambil menunjuk ke hati (at-taqwa hā hunā). Bahkan tolok ukur kebajikan dan dosa
pun (al-birr wa al-itsm) adalah hati. Kalau hatinya baik
maka baik pula seluruh perbuatannya dan sebaliknya. Jadi hati adalah cermin.
Puasa
sangat erat kaitannya dengan urusan hati. Dan iman letaknya juga di hati.
Makanya puasa harus disertai niat. Niat letaknya dalam hati.
Tidak
heran kalau orang yang berpuasa mau bersusah payah menahan diri untuk tidak
makan, tidak minum, tidak berhubungan sex dan tidak melakukan hal-hal yang
membatalkanya di siang hari sampai tiba waktunya yang sudah ditentukan untuk
berbuka yakni di saat magrib, itu lantaran iman dan hatinya yakin bahwa Allah
Subhanahuwata’ala Maha Tahu dan Maha Melihat. Karena kalau saja mau dan pasti
tidak ada orang lain yang tahu, ia bisa saja makan atau minum misalnya, dan
setelah itu ia pura-pura puasa lagi seperti biasa. Tapi justru ia tidak mungkin
melakukan itu. Padahal Ia bisa saja membohongi orang-orang di sekitarnya, tapi
karena itu tadi ia yakin bahwa Allah Subhanahuwata’ala tidak bisa dibohongi. Allah
Subhanahuwata’ala akan selalu memperhatikan dan mengawasi setiap makhluknya,
setiap saat, di mana pun dan kapan pun berada. Allah Subhanahuwata’ala selalu
hadir dan maha dekat. Demikian kesadaran dan keinsafan luar biasa dari efek
orang berpuasa.
Itulah
pula kenapa hanya ibadah puasa -- sedang ibadah-ibadah yang lain seperti shalat,
zakat atau haji tidak termasuk -- yang disebutkan oleh Allah Subhanahuwata’ala
-- dalam hadis qudsi -- hanya untuk Dia (Allah Subhanahuwata’ala), dan Dia saja
yang berhak membalasnya atau menilainya. Di sinilah ibadah puasa makanya
dikatagorikan sebagai ibadah yang sangat bersifat pribadi. Hanya Allah
Subhanahuwata’ala dan yang berpuasa itu sendiri yang tahu bahwa ia berpuasa.
Dengan
rasa lapar dan haus, orang yang berpuasa juga diajak untuk menghayati dan
menyadari betapa selama ini banyak orang yang merasakan kondisi seperti itu,
karena kekurangan dan kelemahan secara ekonomi tidak mampu memenuhi kebutuhan
pokoknya. Sikap empati dan welas asih terhadap sesama, paling tidak, dapat
tumbuh dalam diri orang berpuasa. Semangat berbagi dan meletakkan "tangan
di atas lebih baik daripada tangan di bawah" dengan ikhlas tanpa
pamrih, hatta saat tangan kanan terulur dan terjulur, sebisa
mungkin tangan kiri pun tidak tahu sebagai rasa syukur atas karunia Allah
Subhanahuwata’ala yang tak terukur yang begitu besar, juga merupakan salah satu
pesan penting dari berpuasa. Kesadaran bahwa welas asih dan sayang kepada
makhluk yang berada di bumi itu akan mengundang welas asih dan sayang yang
berada di langit, sedikit banyak akan lahir dari diri orang yang berpuasa.
Inilah
yang diinginkan oleh sabda Nabi Shalallahualaihiwassalaam bahwa, "Siapa
yang berpuasa Ramadhan dengan penuh iman (imanan) dan mengukur
diri (ihtisaban), maka akan diampuni dosanya yang lalu". (H.R. Bukhari Muslim). Iman dan mengukur
diri (ihtisab) sama artinya dengan percaya, yakin dan mawas
diri atas nilai-nilai penghayatan, kesadaran dan keinsafan orang yang berpuasa Ramadhan,
antara lain yang telah dijelaskan di atas.
Pada
gilirannya, ia menjadi orang yang bersih dari dosa, kembali fitrah bak seorang
bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibu. Makanya, setelah usai puasa di bulan Ramadhan
(bulan ke-9 dalam kalender Islam), orang yang berpuasa akan kembali fitrah
(idul fitri) di bulan Syawal (bulan ke-10 dalam kalender Islam). Bukankah ini
artinya merupakan simbol dari keberadaan manusia saat dikandung dalam rahim
ibunya yaitu kurang lebih selama 9 bulan dan 10 hari?
Silaturahim,
dalam pengertian menghubungkan diri ke rahim (kasih sayang pada ibu yang
melahirkan adalah paling pokok) dan welas
asih pada sesama adalah sikap yang melekat pada diri seorang yang telah
menyelesaikan ibadah puasanya sebulan penuh di bulan Ramadhan. Rahim sebagai
satu-satunya organ yang ada dalam tubuh dan hanya dimiliki oleh seorang ibu
(perempuan) merupakan organ tubuh yang istimewa karunia Allah Subhanahuwata’ala,
bahkan namanya pun diambil dari nama Allah Subhanahuwata’ala sendiri.
Hal
ini ditegaskan oleh Allah Subhanahuwata’ala dalam hadis qudsi, "Akulah
Yang Maha Penyayang (Rahman), dan Akulah yang menciptakan rahim (organ dalam
tubuh perempuan). Aku yang memberi namanya (rahim) dari (pecahan) nama-Ku.
Siapa yang menyambungkan hubungan (welas asih), maka Aku pun pasti
menyambungkan hubungan (welas asih) dengannya. Dan siapa yang memutuskan hubungan
(welas asih), Aku pun pasti memutuskan hubungan (welas asih)
dengannya." Wallahu a'lam.
Selamat
menunaikan ibadah Ramadhan.
Tangerang,
5 Mei 2019 / 30 Sya’abn 1440 H.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar