Obrolan Warung Kopi
Oleh : ASA
Suatu
siang Bengbeng mampir di warung kopi di dekat sekolah Bokis, sohib kental. Bokis itu seorang guru yang katanya sudah
dapat SK sebagai pelatih ahli. Sebagai kawan semenjak kuliah, Bengbeng
berprasangka baik kalau Bokis bakalan mentraktir secangkir kopi dan pisang goreng,
menu andalan disaat tanggal tua.
Tak
lama Bokis pun datang. “Selamat ya Kis, sekarang sudah jadi pelatih ahli. Makin
enak aja dong tugasnya, cuma ngawas-ngawasin doang.”kata Bengbeng sambil jabat
tangan khas mirip anak gaul jaman sekarang. “Enak apaan? Makin berat iya”
seloroh Bokis. “Lu bukannya bersyukur. Banyak lho yang pengin jadi pelatih ahli
kayak kamu.”timpa Bengbeng sok tahu. “Bayangin aja, bro. Gue mesti belajar lagi
soal kurikulum baru. Terus gue mesti mendampingi, menjelaskan kurikulum itu
kepada para kepala sekolah dan guru-guru penggerak. Padahal gue sendiri belum
begitu paham, tapi gue mesti ngejelasin ke orang lain. Berat kan?”
Tanpa
diminta Bokis itu cerita panjang lebar tentang bagiamana dia mengikuti
pelatihan menjadi pelatih ahli. Mulai dari cara belajarnya yang online, bahan
pelatihan yang kebanyakan cuma pepete (powerpoint, maksudnya), waktu yang
kadang sampai larut malam, dan lain sebagainya. Bengbeng tidak tahu persis apa
yang Bokis ceritakan benar sepenuhnya atau dilebih-lebihkan supaya kelihatan
heroiknya.
“Kayaknya,
gue pengin jadi kayak elu aja deh. Santai, ngga banyak yang dikerjain,
ah..pokoknya enak deh” “Lha, itu kan pilihan elu”,cegat Bengbeng. “Iya
sih…”akhirnya Bokis tersadar, atau pura-pura sadar? Tiba-tiba Bokis bertanya
hal yang membuat Bengbeng kaget. “Menurut elu, jadi guru mestinya kayak gimana
sih?” tanya Bokis setelah menelan pisang goreng di mulutnya. “Ah, masa gitu aja
ditanyain ke gue, kan elu pelatih ahlinya” jawab Bengbeng sambil menyeruput
kopi yang tidak panas lagi. “Ini serius gue tanya elu, please” jawab Bokis
sambil pasang muka memelas (didramatisir amat…).”Ciee…pakai please segala.
Jadi, gini nih jadi guru menurut gue……”
Menjadi
guru itu harus memiliki kemampuan untuk menterjemahkan tujuan pendidikan
nasional menjadi tujuan tiap matapelajaran. Tujuan pendidikan nasional kan
mencerdaskan kehidupan bangsa seperti dalam pembukaan UUD Negara kita, itu
diturunkan menjadi tujuan bagi pelajaran yang kita ampu. Misalnya kita mengampu
pelajaran agama, maka terjemahkan menjadi mencerdaskan kehidupan beragama para
siswanya sebagai bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia kan agamanya macam-macam. Kalau
itu bisa dilakukan, maka cita-cita Indonesia merdeka akan terwujud. Ya,
kemanusiaannya, persatuannya, demokrasinya, termasuk keadilan dan
kesejahterannya. Nah, kalau kita mengampu pelajaran bahasa, sebagai guru harus
menterjemahkan mencerdaskan cara berkomunikasi dalam kehidupan berbangsa. Negara
kita kan terdiri dari banyak suku dengan berbagai ragam gaya berkomunikasinya. Kalau
semua guru bahasa mengajarkan cara berkomunikasi yang cerdas atawa bahasa
kerennya literat maka tidak akan ada yang namanya hoaks, prank, atau apalah berita palsu yang bikin masyarakat gaduh.
“Wah,
serius amat ngomongnya”. “Nah, kan elu yang ngajakin serius, gimana sih?” jawab
Bengbeng agak kesal. “Iya, sori, sori. Eh, gue kan ngajar matematika, gimana
dong?” “Masalah buat gue?” jawab Bengbeng makin kesal. Dan, sambil berdiri
seraya merogoh saku celana, “Elu mesti pakai nalar dan logika elu dalam
menghadapi persoalan hidup elu”. Seloroh Bengbeng sambil ngeloyor pergi…
Tangerang,
12 Pebruari 2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar