Selasa, 19 April 2022

 


Obrolan Warung Kopi

Oleh : ASA

Suatu siang Bengbeng mampir di warung kopi di dekat sekolah Bokis, sohib kental.  Bokis itu seorang guru yang katanya sudah dapat SK sebagai pelatih ahli. Sebagai kawan semenjak kuliah, Bengbeng berprasangka baik kalau Bokis bakalan  mentraktir secangkir kopi dan pisang goreng, menu andalan disaat tanggal tua.

Tak lama Bokis pun datang. “Selamat ya Kis, sekarang sudah jadi pelatih ahli. Makin enak aja dong tugasnya, cuma ngawas-ngawasin doang.”kata Bengbeng sambil jabat tangan khas mirip anak gaul jaman sekarang. “Enak apaan? Makin berat iya” seloroh Bokis. “Lu bukannya bersyukur. Banyak lho yang pengin jadi pelatih ahli kayak kamu.”timpa Bengbeng sok tahu. “Bayangin aja, bro. Gue mesti belajar lagi soal kurikulum baru. Terus gue mesti mendampingi, menjelaskan kurikulum itu kepada para kepala sekolah dan guru-guru penggerak. Padahal gue sendiri belum begitu paham, tapi gue mesti ngejelasin ke orang lain. Berat kan?”

Tanpa diminta Bokis itu cerita panjang lebar tentang bagiamana dia mengikuti pelatihan menjadi pelatih ahli. Mulai dari cara belajarnya yang online, bahan pelatihan yang kebanyakan cuma pepete (powerpoint, maksudnya), waktu yang kadang sampai larut malam, dan lain sebagainya. Bengbeng tidak tahu persis apa yang Bokis ceritakan benar sepenuhnya atau dilebih-lebihkan supaya kelihatan heroiknya.

“Kayaknya, gue pengin jadi kayak elu aja deh. Santai, ngga banyak yang dikerjain, ah..pokoknya enak deh” “Lha, itu kan pilihan elu”,cegat Bengbeng. “Iya sih…”akhirnya Bokis tersadar, atau pura-pura sadar? Tiba-tiba Bokis bertanya hal yang membuat Bengbeng kaget. “Menurut elu, jadi guru mestinya kayak gimana sih?” tanya Bokis setelah menelan pisang goreng di mulutnya. “Ah, masa gitu aja ditanyain ke gue, kan elu pelatih ahlinya” jawab Bengbeng sambil menyeruput kopi yang tidak panas lagi. “Ini serius gue tanya elu, please” jawab Bokis sambil pasang muka memelas (didramatisir amat…).”Ciee…pakai please segala. Jadi, gini nih jadi guru menurut gue……”

Menjadi guru itu harus memiliki kemampuan untuk menterjemahkan tujuan pendidikan nasional menjadi tujuan tiap matapelajaran. Tujuan pendidikan nasional kan mencerdaskan kehidupan bangsa seperti dalam pembukaan UUD Negara kita, itu diturunkan menjadi tujuan bagi pelajaran yang kita ampu. Misalnya kita mengampu pelajaran agama, maka terjemahkan menjadi mencerdaskan kehidupan beragama para siswanya sebagai bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia kan agamanya macam-macam. Kalau itu bisa dilakukan, maka cita-cita Indonesia merdeka akan terwujud. Ya, kemanusiaannya, persatuannya, demokrasinya, termasuk keadilan dan kesejahterannya. Nah, kalau kita mengampu pelajaran bahasa, sebagai guru harus menterjemahkan mencerdaskan cara berkomunikasi dalam kehidupan berbangsa. Negara kita kan terdiri dari banyak suku dengan berbagai ragam gaya berkomunikasinya. Kalau semua guru bahasa mengajarkan cara berkomunikasi yang cerdas atawa bahasa kerennya literat maka tidak akan ada yang namanya hoaks, prank, atau apalah berita palsu yang bikin masyarakat gaduh.

“Wah, serius amat ngomongnya”. “Nah, kan elu yang ngajakin serius, gimana sih?” jawab Bengbeng agak kesal. “Iya, sori, sori. Eh, gue kan ngajar matematika, gimana dong?” “Masalah buat gue?” jawab Bengbeng makin kesal. Dan, sambil berdiri seraya merogoh saku celana, “Elu mesti pakai nalar dan logika elu dalam menghadapi persoalan hidup elu”. Seloroh Bengbeng sambil ngeloyor pergi…

 

Tangerang, 12 Pebruari 2022

Tidak ada komentar:

Posting Komentar